lagu

Jumat, 07 April 2017

PATHOL


Olahraga Pathol dari Sarang Jawa Tengah




Pathol memiliki makna “Jago yang tak terkalahkan“ dan Sarang adalah tempat dimana olahraga ini lahir. Pathol merupakan olahraga gulat tradisional yang berasal dari Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Olahraga ini sangat terkenal di wilayah pantai utara dari Serang, Rembang, dan Tuban. Olahraga ini sering di selenggarakan pada saat event-event yang penting seperti sedekah laut.
Layaknya seperti gulat pada umumnya, olahraga ini mempertandingkan dua orang di tengah arena. Arena dari olahraga ini biasanya berupa pasir karena itu sering dimainkan di pantai. Kedua atlet pathol hanya mengenakan celana pendek serta menggunakan selendang/sabuk yang terikat dipinggang. Selendang/sabuk ini berfungsi untuk menjatuhkan lawan. Saat pertandingan dimulai, setiap atlet memegang selendang/sabuk yang terikat di pinggang masing-masing lawan. Pegulat yang menang adalah yang berhasil menjatuhkan lawan hingga punggungnya menempel di pasir/arena.
Gerakan-gerakan pathol kemudian dikembangkan oleh pemuda dan masyarakat setempat hingga akhirnya tumbuh menjadi olahraga yang digemari dan bahkan dijadikan kesenian tradisional. Semoga dengan kita lestarikan budaya khas tradisional sarang, olahraga ini bisa dikenal oleh seluruh bangsa Indonesia bahkan seluruh dunia. Olahraga tradisional ini mempunyai sejarah yang sangat penting di masa lalu yang harus dimengerti oleh generasi muda yang akan datang.

ISUTAN JARAT

 Isutan Jarat


Isutan jarat adalah nama permainan tradisional yang berkembang di daerah Kalimantan Selatan. Isutan mungkin peralihan dari kata ‘usutan’ yang berarti ‘mencari’. Sedangkan, jarat adalah istilah yang digunakan oleh Orang Banjar untuk menyebut tali yang ujungnya bersimpul sebagai penjebak atau pengikat (tali lasso di Amerika). Jadi, permainan isutan jarat intinya adalah mencari tali yang bajarat (memiliki jerat). Dalam hal ini setiap pemain berusaha untuk mencari jarat yang disembunyikan di dalam pasir oleh lawan mainnya. Caranya dengan menusukkan sebilah lidi/kayu/bambu ke dalam pasir yang diperkirakan ada jarat-nya.
Pemain
Jumlah pemain isutan jarat minimal dua orang dan maksimal empat orang karena dalam permainan ini ada posisi pasang (yang menyembunyikan jarat) dan posisi naik (yang mencari lubang jarat). Lebih dari jumlah itu terlalu ramai sehingga bisa menimbulkan kebingungan.
Tempat dan Peralatan Permainan
Permainan ini biasanya dilakukan di pinggir sungai saat air surut atau di halaman rumah yang banyak pasirnya. Permainan ini tidak ada kaitannya dengan jenis upacara atau peristiwa tertentu. Oleh karena itu, dapat dimainkan kapan saja. Namun demikian, biasanya dilakukan menjelang sore hari sebelum mandi di sungai. Peralatan yang digunakan adalah tali yang terbuat dari serat pohon pisang dan bilah bambu atau bilah kayu lainnya yang dibuat agak runcing dengan panjang tidak lebih dari lengan. Pohon pisang yang kering dan telah terlihat seratnya, juga dapat digunakan oleh pemain untuk membuat tali jarat.
Aturan dan Proses Permainan
Permainan isutan jarat dibagi dalam dua tahap, yaitu tahap menyembunyikan jarat dan tahap mencari jarat. Jika jumlah pemain 4 orang, maka dalam tahap menyembunyikan jarat, ke-4 pemain tersebut berpencar ke daerah yang berpasir dan masing-masing menyembunyikan jarat-nya. Masing-masing mempunyai teknik tersendiri dalam menyembunyikan jerat. Salah satu diantaranya ujung jerat dibuat berkelok-kelok sehingga letak jerat yang sesungguhnya sulit ditebak. Dalam teknik ini biasanya tali yang berkelok-kelok yang sebenarnya tidak ber-jerat sengaja disisakan dipermukaan pasir, sehingga lawan bisa tertipu (tebakannya meleset).
Selanjutnya, adalah tahap mencari jarat. Dalam tahap ini ditentukan terlebih dahulu timbunan pasir siapa yang akan dicari terlebih dahulu. Setelah itu, masing-masing pemain akan menusukkan bilahnya ke dalam timbunan pasir untuk menebak letak jarat. Ketika seluruh pemain telah menusukkan bilahnya, maka pemasang jarat menariknya sehingga akan ketahuan siapa yang berhasil menebak jarat. Setiap pemain akan mendapat giliran untuk menebak jarat pemain lainnya.
Nilai Budaya
Nilai budaya yang terkandung dalam permainan ini adalah kecermatan dan sportivitas. Nilai kecermatan tercermin dalam keberhasilan menebak jarat lawan. Sedangkan, nilai sportivitas tercermin dalam menyembunyikan jarat. Dalam konteks ini para pemain betul-betul tidak melakukan pengintaian dan mereka memasang jarat pada lubang yang ukurannya telah disepakti bersama.

MEONG MEONGAN

 MEONG MEONGAN


1  Sejarah Permainan Meong-meongan
Meong-meongan adalah permainan tradisional masyarakat Bali yang berasal dari kabupaten Karangasem. Selain di Bali, permainan Meong-meongan ini juga dimainkan di daerah lain seperti di Pulau Jawa. Tentunya dengan nama yang berbeda pula. Di Jawa permainan Meong-meongan lebih dikenal dengan nama kucing-kucingan. Walaupun namanya berbeda tapi prinsip dan cara bermainnya tetap sama.
 Meong- meongan merupakan sejenis permainan yang didalam pelaksanaannya disamping memang untuk hiburan, juga membutuhkan gerakan-gerakan jasmani, yang didalam pelaksanaannya. Didominir oleh anak-anak usia sekolah Dasar (umur 4 -12 tahun).
Permainan Mameongan-meongan ini sudah dilaksanakan sejak berpuluh-puluhan tahun yang lewat, tetapi kapan sebenarnya permainan ini diciptakan dan siapa yamg menciptakan permainan ini tidak ada data-data atau informasi yang pasti. Diketahui bahwa permainan ini sudah ada dan tetap dilaksanakan sebagai kegiatan berolahraga rekreasi untuk anak-anak usia Sekolah Dasar.
Tim peneliti KONI Bali pada tanggal 28 Pebruari 1990 menyaksikan langsung demonstrasi permainan Mameong- meongan ini yang mengambil lokasi dilapangan Tanah Aron Kota Amlapura, serta disaksikan oleh para pejabat teras dari lingkungan Pemda Tingkat II Kabupaten Karangasem serta anak-anak Sekolah Dasar disamping masyarakat setepat.

2  Pengertian Permainan Meong-meongan
Meong-meongan merupakan permainan tradisional masyarakat Baliyang umum dimainkan oleh anak-anak di Bali diiringi dengan nyanyian lagu meong-meong. Permainan ini menggambarkan usaha dari si kucing atau dalam bahasa Bali disebut meng untuk menagkap si tikus atau bikul.
Dalam permainan ini biasanya diikuti oleh lebih dari 8 orang atau lebih dimana 1 orang memerankan bikul (tikus) satu orang memerankan sebagai meng  (kucing)  dan yang lainnya bertugas melindungi bikul dari meng dengan cara membentuk lingkaran kemudian si bikul berada di dalam lingkaran sedangkan meng berada di luar lingkaran. Meng akan berusaha masuk ke dalam lingkaran dan berusaha menangkap bikul. Anak-anak yang membentuk lingkaran juga akan berusaha menghalangi meng masuk ke dalam lingkaran sambil menyanyikan lagu meong – meongan. Adapun lirik lagu meong – meongan adalah sebagai berikut.
Meong-meong, alih je bikule
Bikul gede-gede, buin mokoh-mokoh
Kereng pesan ngerusuhin
Juk Meng!, Juk Kul!, Juk Meng!, Juk Kul! (diulang sampai Bikul tertangkap)
            Jika semua peserta sudah siap di posisi masing-masing, permainan bisa dimulai dengan nyanyian ini yang dinyanyikan oleh peserta yang memerankan Pelindung dari bikul sambil mereka yang sebagai pelindung berputar dengan bentuk lingkaran sambil menghalangi Meng untuk masuk lingkaran. Ketika lagu nyanyian telah menginjak pada lirik “Juk Meng!, Juk Kul!, Juk Meng!, Juk Kul!”, Meng mulai mengejar Bikul untuk ditangkap. Lirik lagu “Juk Meng!, Juk Kul!” tersebut akan terus diulang hingga si Meng dapat menangkap si Bikul. Sesudah Bikul ditangkap, permainan dan nyanyian usai dan kemBali pada titik pengundian peserta.
3  Sarana dan Prasarana yang Diperlukan dalam Permainan Meong-meongan
Sarana dan Prasarana yang digunakan  :
o   Lapangan sesuai dengan banyak atau sedikitnya peserta.
o   Lapangan sebaiknya terbentuk segiempat .
o   Sebaiknya lapangan ini rata.



4  Cara Bermaian dan Pemain Meong-meongan
a. Cara Bermain
a)         Dengan dipimpin seorang yang sudah ditunjuk, maka peserta memasuki dengan membentuk barisan satu bersyaf sambil menyayikan lagu meong - meongan untuk memeriahkan suasana.
b)        Sesudah barisan berbentuk lingkaran maka dengan satu aba- aba maka semua peserta berhenti dan menghadap ke tengah dimana pemimpin yang ditunjuk berada.
c)         Sesudah diadakan undian bagi yang meong dan bikul.
d)        Meong  (kucing) Bikul ( Tikus) maka begitu aba – aba mulai, maka si meong mulai berlari mengejar si Bikul. Dengan diiringi nyanyian seperti terlampir, maka mulailah permainan kejar – kejaran ini, yang memang membutuhkan stamina yang prima bagi meong dan bikul ini.
e)         Peserta dengan bergandengan tangan lebih memberikan keleluasaan kepada si Bikul dan mengadakan hambatan kepada si Meong.
b. Pemain
a)         Para pemain terdiri dari anak- anak usia Sekolah Dasar  yaitu umur 6-13 tahun.
b)        Pemainan boleh diikuti oleh anak-anak putra dan putri.

5  Kemenangan dan Perwasitan
a.       Kemenangan
a)    Acara kejar – kejaran baru berheti bila si Meong dapat menangkap si Bikul dengan cara mentip ( bukan memukul ).
b)   Sebelum si Bikul ditangkap maka permainan harus diteruskan.
c)    Permainan dilanjutkan lagi setelah adanya pasangan baru yang sudah disiapkan.
b.      Perwasitan
a)    Untuk jenis permainan ini yamg perlu hanya pengamat karena jenis ini masih sukar diangkat untuk menjadi jenis lomba atau pertandingan.
b)   Bila nantinya permainan ini akan diangkat ke jenis lomba, hanya terbatas pada lomba keterampilan peragaan.

KELERENG

2.1 Pengertian Kelereng
Kelereng dengan berbagai sinonim gundu, keneker, kelici, guli adalah bola kecil dibuat dari tanah liat, marmer atau kaca untuk permainan anak-anak. Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya setengah inci atau 1,25 cm dari ujung ke ujung. Kelereng kadang-kadang dikoleksi, untuk tujuan nostalgia dan warnanya yang estetik.
2.2 Sejarah Kelereng
            Sejak abad pertengahan permainan kelereng ini sudah ada dan seringkali dimainkan oleh kalangan aristokrat dan bangsawan. Permainan ini tidak hanya terkenal di kalangan masyarakat kita saja, di Perancis pun permainan ini ternyata sangat digemari dan mereka memanggilnya dengan sebutan Pentaque. Bedanya,  jika permainan kelereng menggunakan gundu yang berukuran kecil,
Pentaque memerlukan dua jenis bola yang mempunyai ukuran yang cukup besar yang terbuat dari kayu jati dan baja. Pentaque ini pertama kali diperkenalkan oleh Suku Gaule(Perancis Kuno). Dari Perancis permainan ini menyebar ke wilayah lainnya seperti Yunani dan Mesir melalui orang-orang Romawi. Seperti halnya NekeranPentaque awalnya juga merupakan permainan untuk mengisi waktu luang.
Sejarah pun berlanjut hingga sampai ke zamanRenaissance atau pencerahan. Pentaquemenjadi mainan di kalangan aristokrat dan bangsawan bahkan kabarnya pernah disejajarkan dengan olahraga Tennis yang dipandang cukup elit di masa itu. Yang diperbolehkan untuk bermain olahraga itu hanyalah orang-orang tertentu saja.
Terhitung sejak tahun 1850, sebuah organisasi sosial Clos Jouve memperkenalkan kembali Pentaque yang semakin hari kian dilupakan oleh masyarakat. Menginjak abad ke-20 permainan ini mulai dipatenkan seiring dengan semakin banyaknya bermunculan klub-klub Pentaque sebagai pelestarian kebudayaan tradisional.
Teknologi pembuatan kelereng kaca ditemukan pada 1864 di Jerman. Kelereng yang semula satu warna, menjadi berwarna-warni mirip permen. Teknologi ini segera menyebar ke seluruh Eropa dan Amerika. Namun, akibat Perang Dunia II, pengiriman mesin pembuat kelereng itu sempat terhenti dan akhirnya masing-masing negara mengembangkannya sendiri.
2.3 Alat yang Diperlukan
            Permainan Kelereng ini tidak membutuhkan peralaatn khusus untuk memainkannya. Pemain hanya memerlukan lapangan kosong sebagai arena kelereng dan kapur atau tongkat untuk membuat garis permainan. Dan selanjutnya permainan siap untuk dimainkan.
2.4 Peraturan Permainan
bermain-kelereng
Ada beberapa jenis peraturan, diantaranya pot-potan dan ban-banan atau jarum-jaruman. Namun, ide dasarnya sama yaitu mengarahkan kelereng penembak menuju kelereng target. Untuk p
ot-potan permainanya adalah membuat gambar persegi yang diantara titik bidangnya diletakkan kelereng kita dan kelereng lawan. Dan selanjutnya saling mengeluarkan kelereng yang ada dalam persegi tersebut. Dan jika keluar dari persegi maka kelereng tersebut akan menjadi hak milik sang penembak. Selain pot-potan ada juga yang lain. Yaitu dengan membuat garis lingkaran dan meletakkan kelereng target dan siapa yang paling banyak mengeluarkan kelereng target, maka dialah pemenangnya.

2.5 Cara Bermain
            Untuk memainkan permainan kelereng yang paling dasar, pertama lapangan bermain yang cocok harus dibentuk. Cukup dengan taman bermain berpasir atau daerah pinggiran lapangan
194464_bermain-kelereng-pinggir-rel-kereta_663_382
biasa akan ideal jadi medannya, meskipun setiap daerah luar ruangan datar dengan rumput minimal akan cocok.

Setelah lapangan telah dibuat, semua pemain perlu memberikan kontribusi sejumlah kelereng kecil ke tengah ring. Kelereng ini disusun dalam bentuk salib, dengan masing-masing marmer spasi beberapa inci terpisah. Kelereng di ring dianggap sasaran buat setiap penembak. Pada titik ini, para pemain harus memutuskan apakah mereka bermain buat bersenang-senang atau “untuk seriusan.” Jika bermain buat bersenang-senang, kelereng yang sama ditempatkan kembali ke ring dan kembali ke pemilik masing masing setelah pertandingan digelar. Jika bermain buat seriusan, para pemenang dari setiap permainan akan menyimpan semua kelereng dimainkan sebagai denda dan imbalan dari pemainan yang dimainkan bersama itu.
Penembak pertama bisa memposisikan kelerengnya di mana saja di sekeliling luar lingkaran. Tujuan dari permainan dasar kelereng ialah buat menjatuhkan kelereng sasaran atau penembak pemain lain benar-benar keluar dari ring tanpa mengirim penembak Anda sendiri di luar batas. Penembak pertama umumnya bertujuan ke susunan pusat kelereng dan menempatkan penembak di sebuah celah yang dibentuk oleh menyelipkan ibu jari di belakang buku jari keduanya atau jari telunjuknya. Jari telunjuk memegang jempol dalam ketegangan sampai pemain buat mengambil ancang ancang buat menembak. Teknik ini disebut jentikan bawah, dan divestasi harus cukup kuat buat menggerakkan ketukan penembak yang lebih besar ke dalam lingkaran dan memaksa setidaknya satu kelereng keluar dari lingkaran.
Selama penembak terus mengirim kelereng keluar dari ring tanpa kehilangan posisinya atau selalu kena, maka a
kan bisa giliran terus. Jika penembak gagal buat melumpuhkan kelereng lawan, gilirannya dianggap selesai. Sebuah permainan kelereng berakhir ketika semua kelereng telah tersingkir dari ring. Pe
kelereng1
main layak menghitung jumlah kelereng yang telah mereka kumpulkan dan satu dengan kelereng yang paling banyak dinyatakan sebagai pemenang dari permainan itu. Putaran selanjutnya bisa dimainkan buat menentukan kampiun utama, atau mungkin hanya bermain terus sampai pemain kehabisan kelereng buat membuat putaran selanjutnya.

2.6 Manfaat yang Diperoleh
  1. Mengatur Emosi (Relaks)
Bermain kelereng sangat menyenangkan bagi anak. Kesenangan inilah yang memunculkan unsur relaks yang membantu anak keluar sebentar dari rutinitasnya sehari-hari untuk “me-recharge” kembali baterai energinya. Bila energinya sudah kembali penuh, tentu baik sebagai persiapan menghadapi hal-hal yang serius, seperti belajar.
  1. Melatih Kemampuan Motorik
Kegiatan-kegiatan dalam permainan ini, seperti melempar dan menyentil kelereng, dapat melatih keterampilan motorik halus dan kasar di usia sekolah. Makin baik kemampuan motorik, koordinasi visual dan konsentrasinya maka anak pun semakin mahir untuk menembakkan kelereng-kelerengnya.
  1. Melatih Kemampuan Berfikir (Kognitif)
Kemampuan berpikir anak ikut dirangsang dalam permainan ini. Misalnya, jika ia ingin memenangkan permainan maka harus memecahkan masalah dan menggunakan strategi dengan menggunakan teknik-teknik tertentu.
  1. Kemampuan Berkompetensi
Keberhasilan anak menjalani suatu teknik yang lantas memperoleh tanggapan dari para lawan nya merupakan hadiah tersendiri bagi anak. Adanya perasaan bersaing di usia sekolah sangat penting untuk membentuk perasaan harga diri.
  1. Kemampuan Sosial (Menjalin Pertemanan)
Yang paling penting dari kegiatan bermain adalah bagaimana anak mampu menjalin pertemanan dengan kawan mainnya. Jangan lupa, hubungan pertemanan akan memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari konteks sosial yang lebih luas. Misal, ia jadi belajar bekerja sama, belajar mengatasi konflik ketika terjadi pertengkaran pada saat bermain dengan temannya, serta belajar mengomunikasikan keinginan dan pikirannya.
  1. Bersikap Jujur
Anak juga punya kesempatan mengembangkan karakter dan kepribadian yang positif ketika bermain, seperti pentingnya kejujuran dan fairness. Kecintaannya pada nilai-nilai yang benar merupakan landasan dalam menjalin hubungan dengan orang lain di masa yang akan datang.
  1. Melatih Taraf Kecermatan dan Ketelitian
Permainan ini dapat melatih otak kita menjadi lebih cermat dalam bertindak dan menjadi lebih teliti dengan hal-hal yang telah dia lakukan atau yang akan dia kerjakan nanti. Dengan cara memikirkan langkah-langkah yang harus diambil dengan kondisi yang sedang dia alami saat bermain

PATAH KALENG

Patah Kaleng, Permainan Sepak Olahraga Bolara Ala Anak Papua

Kehebatan teman-teman Papua dalam permainan bola memang tidak dapat dipungkiri lagi. Mereka sangat beruntung dilimpahi kemampuan fisik yang kuat yang menunjang permainan sepakbola. Tapi mungkinkah itu juga dipengaruhi oleh permainan tradisionalyang dimainkan mereka saat masih kanak-kanak? Patah kaleng, itulah nama permainan tradisional Papua yang dimainkan di lapangan dengan memanfaatkan kaleng bekas minuman atau makanan. Luas lapangannya sendiri tidak ditentukan, bisa menggunakan setengah lapangan bola ataupun berukuran lebih kecil. Banyak hal yang tidak beraturan dalam permainan ini. Jumlah pemain tidak ditentukan, yang pasti permainan ini dimainkan oleh dua kelompok. Tidak ada wasit, tidak ada hakim garis, dan tidak ada ketentuan waktu permainan. Ketentuan bola juga tidak ada. Para pemain bebas menentukan objek, yang terpenting berbentuk bulat, berbobot ringan, dan dapat ditendang. Dalam permainan ini, gol adalah saat bola yang ditendang mengenai kaleng dan menjatuhkan kaleng tersebut. Terkadang gol antara dua kelompok bisa lebih dari 5. Terminologinya, seorang pemain akan dikatakan jago bila mampu melewati lima pemain lawan, Permainan akan selesai bila matahari sudah terbenam dan keesokan harinya permainan kembali dilanjutkan. Dikarenakan tidak adanya peraturan, seringkali permainan Patah Kaleng memberikan luka bagi para pemain. Meskipun begitu, anak-anak itu tetap senang. Hal ini dapat dilihat dari wajah mereka yang selalu menggiring bola sambil tersenyum, menikmati momennya dan mencetak gol sebanyak mungkin. 

Saat ini, Patah Kaleng Papuamengalami pergeseran setelah munculnya Permainan Futsal. Akan tetapi, bagi sebagian orang, permainan ini tetap mengasyikkan. Disanalah terdapat semangat, teknik jitu saat melewati para pemain yang berebutan bola, dan juga bersamaan. Idealnya, permainan ini selalu menggunakan bola seukuran bola tennis lapangan, karena dapat menembus celah kaki pemain dan menjatuhkan kaleng. Meskipun begitu, permainan Patah Kaleng juga memiliki kelemahan, yaitu pemain hanya fokus pada bola, hanya peraturan hands ball yang berlaku dalam permainan ini, dan peraturan out side dan tendangan pojok tidak berlaku. Pada intinya, prinsip permainan ini adalah bagaimana bola yang ditendang dari segala penjuru dapat menyentuh kaleng dan menjatuhkan kaleng tersebut. Yang lebih lemahnya lagi, tidak jarang permainan Patah Kaleng menimbulkan perkelahian yang disebabkan oleh lawan yang tidak menerima kalengnya terjatuh. Permainan Patah Kaleng sendiri lebih mengutamakan kolektifitas. Para pemain akan menyerang bersama dan bertahan bersama, sehingga lahirlah skill individu.

Hingga kini, tidak ada yang mengetahui dengan pasti, kapan dan siapa yang pertama kali mempopulerkan permainan Patah Kaleng di Tanah Papua. Meskipun telah banyak ditemukan lapangan futsal di Papua, namun anak-anak asli Papua tetap lebih memilih permainan Patah Kaleng. Dan yang pasti, permainan Patah Kaleng Papua yang merupakan alternatif permainan bola kaki, harus tetap dilestarikan.

EGRANG BATOK KELAPA

Permainan Tradisional Eggrang Batok Kelapa

A. Permainan Tradisional Egrang
1. Asal-usul
Selain mengenal egrang dari bambu, anak-anak masyarakat Jawa masa lalu juga mengenal egrang bathok. Egrang jenis terakhir ini dibuat dari bahan dasar tempurung kelapa yang dipadu dengan tali plastik atau dadung. Fungsi utama sama, seperti alat dolanan lain, yakni diciptakan dan dibuat untuk bermain bagi dunia anak. Permainannya pun cukup mudah, kaki tinggal diletakkan ke atas masing-masing tempurung, kemudian kaki satu diangkat, sementara kaki lainnya tetap bertumpu pada batok lain di tanah seperti layaknya berjalan.
Anak-anak sekarang memang tidak harus memainkan kembali permainan-permainan tradisional, termasuk dolanan egrang bathok. Namun paling tidak generasi tua saat ini bisa mengenalkan kepada generasi muda sekarang. Tentu dengan harapan agar generasi muda sekarang bisa mengenal sejarah kebudayaan nenek moyangnya, termasuk dalam lingkup permainan tradisional dan akhirnya bisa menghargai karya dan identitas bangsanya sendiri walaupun teknologi yang diterapkan kala itu sangat sederhana. 



2. Alat Permainan 

Permainan tradisional yang menggunakan alat seperti permainan egrang bathok ini, pada umumnya bahan dasarnya banyak diperoleh di sekitar lingkungan anak. Bathok dalam bahasa Indonesia disebut tempurung. Tempurung yang dipakai biasanya berasal dari buah kelapa tua yang telah dibersihkan dari sabutnya. Kemudian tempurung itu dibelah menjadi dua bagian. Isi kelapa dikeluarkan dari tempurung. Tempurung yang terbelah menjadi dua bagian ini kemudian dihaluskan bagian luarnya agar kaki yang berpijak di atasnya bisa merasa nyaman. Masing-masing belahan tempurung kemudian diberi lubang di bagian tengah. Masing-masing lubang tempurung dimasuki tali sepanjang sekitar 1,5 - 2 meter dan diberi pengait. Tali yang digunakan biasanya tali lembut dan kuat, bisa berupa tali plastik atau dadung yang terbuat dari untaian serat. Jadilah sebuah permainan tradisional yang disebut egrang bathok.

3. Peserta Permainan 

Para peserta permainan egrang bathok kelapa tidak terbatas untuk dimainkan oleh anak laki-laki, tetapi juga kadang dipakai untuk bermain anak perempuan antara usia 6-12 tahun, (TK B, Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP)), akan tetapi tidak menutup kemungkinan permainan ini dilakukan oleh orang dewasa.

4. Tempat dan Waktu Permainan 

Permainan tradisional Egrang Bathok Kelapa tidak bisa dimainkan di dalam ruangan, melainkan harus dimainkan di luar rumah, khususnya di tanah lapang yang berukuran luas dan tidak terbatas. Selain itu, permainan Egrang Bathok Kelapa sebaiknya dimainkan di tempat yang beralaskan tanah, bukan di ubin atau alas lantai lainnya yang berkontur keras. Sedangkan waktu untuk memainkan permainan Egrang Bathok Kelapa sebenarnya tidak terbatas, namun biasanya permainan ini dimainkan pada waktu pagi, siang dan menjelang sore hari.

5. Cara Memainkan 

Permainan Egrang Bathok Kelapa bisa dimainkan secara individu maupun kelompok. Kadang-kadang, permainan ini di masa-masa lalu, biasa pula dipakai untuk perlombaan. Tentu di sini anak diuji ketangkasan dan kecepatan berjalan di atas Egrang Bathok Kelapa. Anak yang paling cepat berjalan tanpa harus jatuh dianggap sebagai pemenang. Namun sering pula secara individu anak bermain egrang bathok dalam situasi santai. Cara mainnya yakni anak cukup menjepitkan jari kaki (seperti menggunakan sandal jepit) diantara tali, kemudian jalan layaknya orang berjalan biasa. 


6. Manfaat Permainan 
a. Anak menjadi lebih kreatif
Permainan tradisional biasanya dibuat langsung oleh para pemainnya. Mereka menggunakan barang-barang, benda-benda, atau tumbuhan yang ada di sekitar para pemain. Hal itu mendorong mereka untuk lebih kreatif menciptakan alat-alat permainan. Selain itu, permainan tradisional tidak memiliki aturan secara tertulis. Biasanya, aturan yang berlaku, selain aturan yang sudah umum digunakan, ditambah dengan aturan yang disesuaikan dengan kesepakatan para pemain. Di sini juga terlihat bahwa para pemain dituntut untuk kreatif menciptakan aturan-aturan yang sesuai dengan keadaan mereka.
b. Bisa digunakan sebagai terapi terhadap anak. Saat bermain, anak-anak akan melepaskan emosinya. Mereka berteriak, tertawa, dan bergerak. Kegiatan semacam ini bisa digunakan sebagai terapi untuk anak-anak yang memerlukannya kondisi tersebut.
c. Melatih insting dan ketepatan dalam bertindak. Dengan memainkan permainan Egrang Bathok Kelapa, seseorang akan berusaha memaksimalkan instingnya agar memperoleh hasil yang baik. Selain itu, permainan ini juga akan membiasakan seseorang berpikir cepat dan tepat dalam melakukan sesuatu.
d. Meningkatkan ketahanan fisik maupun mental. Dengan melakukan permainan Egrang Bathok Kelapa, ketahanan tubuh seseorang akan meningkat karena permainan ini membutuhkan aktivitas fisik yang cukup prima. Selain itu, ketahanan mental pun akan meningkat karena dalam permainan ini juga menuntut kestabilan mental. 
e. Melatih sportivitas dalam berkehidupan. Terkadang, permainan Egrang Bathok Kelapa dimainkan dalam bentuk kelompok atau sebagai perlombaaan. Sehingga sportivitas harus tetap dijunjung.
f. Memupuk tingkat sosialisasi dalam pergaulan. Permainan ini bisa dimainkan dalam bentuk perlombaan, jadi tidak menutup kemungkinan ada sosialisasi antar pemainnya. 
g. Menjaga kelestarian tradisi dan kearifan lokal. Permainan Egrang Bathok Kelapa merupakan produk asli Indonesia, dengan memainkan alat permainan tradisional ini, secara langsung dapat melestarikan kebudayaan yang dimiliki Negara kita.

PETAK UMPET

Pengertian / Sejarah Petak Umpet
Permainan tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak zaman  dahulu, yang berkembang di lingkungan masyarakat. Mungkin hampir semua anak-anak di era sebelum 1990an pernah bermain permainan ini. Petak umpet, salah satu permainan tradisional yang telah berumur ratusan tahun, bahkan mungkin ribuan tahun, tidak jelas kapan permainan ini mulai ditemukan atau dimainkan. Yang jelas pada abad ke-2, seorang penulis yunani menulis tentang permainan yang disebut apodidraskinda. Permainan itu mirip dengan petak umpet yang kita kenal sekarang. Petak umpet adalah sejenis permainan mencari teman yang bersembunyi, bisa dimainkan oleh minimal 2 orang, namun jika semakin banyakakan semakin seru.
Di berbagai dunia, permainan petak umpet mempunyai nama berbeda, sesuai dengan bahasa di negara masing-masing. Misalnya el escondite (Spanyol), jeude chache cheche (Prancis), Machboim (Israel), Sumbaggoggil (Korea Selatan), Hide and Seek (Inggris). Begitu juga dengan di Indonesia, nama permainan Petak Umpet juga berbeda di setiap daerahnya. Misalnya di Sunda dikenal dengan Ucing Sumput, di Jawa Jepungan/Jethungan dan masih banyak lagi.
Manfaat Permainan Petak Umpet
Banyak permainan anak-anak yang bisa memberikan manfaat bagi kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosi. Salah satu permainan yang masih menjadi favorit anak-anak dari berbagai daerah yaitu permainan petak umpet.
Selain menyenangkan, ternyata permainan ini juga bisa memberikan manfaat bagi anak-anak. Berikut 7 manfaat permainan petak umpet untuk pertumbuhan anak antara lain:
  • Anak menjadi lebih aktif
Permainan petak umpet bisa membantu anak untuk menjadi anak yang lebih aktif. Anak yang aktif bergerak akan mengalami perkembangan yang signifikan daripada anak yang banyak diam. Dalam permainan ini, anak akan berlari dan bersembunyi sehingga secara tidak langsung anak sudah melakukan olahraga.
Daripada hanya bermain game atau menonton televisi, lebih baik anak diarahkan untuk melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat.
  • Anak bisa belajar bersosialisasi
Bersosialisasi tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak kecil pun sudah harus melakukan hal tersebut untuk membiasakannya sampai ia dewasa. Permainan ini dilakukan dengan cara bersama-sama tanpa memandang ras atau latar belakang keluarga. Semua anak-anak akan terlibat aktif dalam permainan tersebut.
  • Belajar berhitung
fsd
Permainan ini tidak hanya baik bagi pertumbuhan fisik anak-anak, tetapi juga bagi perkembangan kecerdasan anak. Anak-anak akan berlatih menghitung dalam permainan ini. Anak-anak yang bermain dibagi menjadi 2 peran yaitu berperan sebagai pencari dan yang akan dicari. Saat anak mendapatkan kesempatan menjadi pencari, tentu dia akan menyebutkan hitungan untuk memberikan kesempatan kepada yang bersembunyi.
  • Membuat anak menjadi kreatif
Permainan petak umpet akan memberikan pelajaran bagi anak untuk bisa mengasah otaknya dimana anak harus lebih kreatif mendapatkan tempat persembunyian yang berbeda dengan teman lainnya. Pada kondisi ini anak akan dituntut untuk berfikir cepat agar bisa menemukan tempat yang kira-kira akan sulit ditemukan.
  • Melatih anak patuh pada aturan
Untuk melatih anak agar bisa taat pada berbagai aturan, baik aturan dari lingkungan terkecil seperti keluarga, aturan sekolah, lingkungan masyarakat bahkan sampai lingkungan besar seperti aturan negara, anak harus dididik sejak dini. Belajar mendisiplinkan anak tidak harus lewat pendidikan formal atau kata-kata dari Anda, tetapi bisa juga dilakukan lewat sebuah permainan. Dalam permainan ini anak-anak akan bermain bersama dengan mematuhi peraturan yang telah dibuat bersama. Setiap anak harus bisa mematuhi dan melaksanakan semua ketentuan yang telah dirumuskan dan disepakati. Jika aturan yang telah dibuat dipatuhi bersama, permainan akan berjalan dengan lancar dan menyenangkan.
  • Belajar berdiskusi akan suatu masalah
Permainan yang dilakukan secara bersama-sama tentu diperlukan kesepakatan bersama pula untuk melakukan hal tersebut. Dalam permainan ini semua pemain harus bisa membuat, menyetujui dan melaksanakan aturan dalam permainannya. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi perselisihan yang akan berujung pada pertengkaran.
  • Melatih sportivitas anak
Dalam permainan ini, pemain yang kalah dan menang harus bisa menerima dan melakukan tugasnya masing-masing. Anak-anak akan belajar bagaimana menerima kekalahan dengan tetap menikmati permainan tersebut.
Banyaknya manfaat yang bisa didapatkan dari beberapa permainan anak seperti permainan petak umpet, sehingga Anda bisa mendukung anak untuk melakukannya. Sebagai orangtua, Anda bisa mendorong dan mengarahkan anak untuk lebih mengembangkan kreativitasnya dengan bermain, daripada hanya menonton televisi atau bermain game online.
Cara Bermain Petak Umpet
sf
Petak Umpet merupakan sebuah permainan traditional yang sangat terkenal. Setiap anak di Indonesia pasti tahu dan pernah memainkan permainan ini. Permainan petak umpet ini dimainkan oleh lebih dari 3 orang, diawali dengan hompimpa untuk menentukan siapakah yang akan menjadi ‘kucing’ (pencari teman-temannya yang sedang bersembunyi). Si Kucing ini nantinya akan menutup mata sambil bersandar di hadapan tembok, pohon, atau dimana saja agar ia tidak dapat melihat temannya yang sedang bersembunyi.
fsdgr
Si Kucing tersebut menghitung dari satu sampai sepuluh atau bisa lebih, sampai teman-temannya selesai bersembunyi. Setelah teman-temannya mendapatkan tempat persembunyian, barulah si kucing(pencari) beraksi dengan meninggalkan tempat jaganya sembari menemukan teman-temannya yang telah bersembunyi. Nah disinilah letak seru dari permainan Petak Umpet ini, si Kucing harus cepat dan sesegera mungkin mencari teman-temannya sebelum temannya tersebut berhasil menyentuh tempat penjagaannya tadi.
Jika si “kucing” menemukan temannya, ia akan menyebut nama temannya sambil menyentuh INGLO atau BON atau HONG, apabila hanya meneriakkan namanya saja, maka si “kucing” dianggap kalah dan mengulang permainan dari awal. Yang seru adalah, pada saat si “kucing” bergerilya menemukan teman-temannya yang bersembunyi, salah satu anak (yang statusnya masih sebagai “target operasi” atau belum ditemukan) dapat mengendap-endap menuju INGLO, BON atau HONG, jika berhasil menyentuhnya, maka semua teman-teman yang sebelumnya telah ditemukan oleh si “kucing” dibebaskan, alias sandera si “kucing” dianggap tidak pernah ditemukan, sehingga si “kucing” harus kembali menghitung dan mengulang permainan dari awal.
Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Dan yang pertama ditemukanlah yang menjadi kucing berikutnya.