lagu

Rabu, 29 Maret 2017

KARAPAN SAPI

Karapan Sapi



pasuruan
Karapan Sapi adalah acara khas masyarakat Madura yang di gelar setiap tahun pada bulan Agustus atau September, dan akan di lombakan lagi pada final di akhir bulan September atau October. Pada Karapan Sapi ini, terdapat seorang joki dan 2 ekor sapi yang di paksa untuk berlari sekencang mungkin sampai garis finis. Joki tersebut berdiri menarik semacam kereta kayu dan mengendalikan gerak lari sapi. Panjang lintasan pacu kurang lebih 100 meter dan berlangsung dalam kurun waktu 10 detik sampai 1 menit.

Selain di perlombakan, karapan sapi juga merupakan ajang pesta rakyat dan tradisi yang prestis dan bisa mengangkat status sosial seseorang. Bagi mereka yang ingin mengikuti perlombaan karapan sapi, harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit untuk melatih dan merawat sapi-sapi yang akan bertanding sebelumnya. Untuk membentuk tubuh sepasang sapi yang akan ikut karapan agar sehat dan kuat, dibutuhkan biaya hingga Rp4 juta per pasang sapi untuk makanan maupun pemeliharaan lainnya. Sapi karapan diberikan aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari, terlebih-lebih menjelang diadu di arena karapan.

Bagi masyarakat Madura, Kerapan dilaksanakan setelah sukses menuai hasil panen padi atau tembakau. Untuk saat ini, selain sebagai ajang yang membanggakan, kerapan sapi juga memiliki peran di berbagai bidang. Misal di bidang ekonomi, yaitu sebagai kesempatan bagi masyarakat untuk berjualan, peran magis religious; misal adanya perhitungan-perhitungan tertentu bagi pemilik sapi sebelum bertanding dan adanya mantra-mantra tertentu. Terdapat seorang 'dukun' yang akan 'mengusahakan'nya. Pada setiap tim pasti memiliki seorang 'dukun' sebagai tim ahli untuk memenangkan perlombaan.

Prosesi awal dari karapan sapi ini adalah dengan mengarak pasangan-pasangan sapi mengelilingi arena pacuan dengan diiringi gamelan Madura, yaitu Saronen. Babak pertama adalah penentuan kelompok menang dan kelompok kalah. Babak kedua adalah penentuan juara kelompok kalah, sedang babak ketiga adalah penentuan juara kelompok menang. Piala Bergilir Presiden hanya diberikan pada juara kelompok menang

Rabu, 22 Maret 2017

BALAP KARUNG

BALAP KARUNG

























Sejarah 

 dari segala usia tua dan muda, baik itu laki-laki ataupun perempuan, dan juga dari berbagai latar belakang ekonomi, baik kaya maupun masyarakat kecil. Syahdan kabarnya permainan ini sudah ada sejak Belanda masih menjajah negeri ini.
Di sekolah-sekolah nan didirikan oleh misionaris dari Belanda, biasanya mereka menggelar lomba balap karung ini pada setiap perayaan-perayaan Belanda. Anak-anak sekolah usia 6-12 tahun nan paling sering terlihat memainkan permaianan ini pada awalnya. Kemudian popularitasnya menyebar ke kampung-kampung. Anak-anak kampung sering memainkannya dalam acara-acara tradisional.
Akhirnya permainan ini dikenal masyarakat secara luas, tak hanya anak-anak saja, orang dewasa pun menyukai permainan tradisional balap karung ini. Luar biasanya antusiasme masyarakat, sehingga permainan ini tidak pernah lekang oleh waktu, dan tetap berjaya hingga hari ini. Antusiasme masyarakat terhadap permainan ini tak berkurang sedikitpun. Siapapun di mana pun, setiap kali mereka melihat lomba balap karung, niscaya akan terhibur dan bahkan tertarik buat menjadi peserta lomba.
Perayaan memperingati kemerdekaan negeri kita, tak hanya dilakukan di kampung-kampung antar warga sekitar. Namun kini banyak pula perkantoran dan pabrik-pabrik nan mengadakan berbagai macam lomba antar karyawan buat ikut merayakan hari kemerdekaan ini. Maka lomba balap karung pun mulai merambah halaman kantor-kantor di kota-kota besar.
Maka tak hiperbola rasanya jika permainan tradisional balap karung ini kemudian disebut sebagai permaianan nan mempersatukan, sebab disukai oleh banyak orang dari berbagai latar belakang, agama, ras, usia, dan jenis kelamin.


Syarat 
Untuk bisa memainkan permainan ini ada beberapa syarat nan harus dipenuhi, antara lain:
  1. Karung nan digunakan buat lomba wajib tersedia. Dapat menggunakan karung beras, atau karung terigu nan memiliki kapasitas 50 kg.
  2. Ada pekarangan (kalau dapat tanah) dengan panjang sekitar 15-20 meter, dan memiliki lebar 3-4 meter.
  3. Sebidang tanah nan digunakan sebagai arena pacuan ini kemudian diberi garis-garis sebanyak 4 hingga 5 jalur.
  4. Peserta sebanyak 4-6 orang dalam satu kali perlombaan. Apabila peserta terdapat 20 orang, maka perlombaan dapat dibagi menjadi 4 hingga 5 kali buat babak penyisihan, dan kemudian dapat dibuat diagram pertandingan hingga ke final.


Aturan Main
Permainan tradisional balap karung dapat dilakukan secara estafet atau secara individu. Permainan dilakukan secara estafet jika peserta berupa tim. Permainan nan dilakukan secara individu cukup menarik, namun melakukannya secara estafet akan lebih menarik lagi.
Tantangannya semakin besar sebab persaingan sengit antar tim niscaya terjadi, hiburannya pun juga semakin besar sebab niscaya banyak ulah lucu nan dilakukan peserta nan meloncat-loncat sekuat tenaga di dalam karung. Anggaran mainnya sebagai berikut:
  1. Apabila permainan dilakukan secara individu, maka setiap peserta akan berlomba berlari atau lebih tepatnya meloncat di dalam karung mulai dari garis start hingga garis finish. Peserta nan mencapai garis finish paling cepat ialah pemenangnya.
  2. Apabila permainan dilakukan oleh tim, maka permaianan balap karung dilakukan secara estafet. Artinya ketika satu pemain telah mencapai garis finish, ia harus berbalik kembali ke garis start, dan setelah ia mencapai garis start akan dilanjutkan oleh pemain kedua menuju garis finish berbalik lagi ke garis start, dan dilanjutkan pemain berikutnya, demikian seterusnya hingga pemain terakhir sukses mencapai garis start nan pertama kalinya.
Melakukan balap karung secara estafet sangat menyenangkan, dan niscaya mengundang kekeh dari penoton. Niscaya ada saja anggota tim nan terburu-buru hingga terjatuh atau melakukan gerakan-gerakan lucu. Permaian secara estafet ini juga bermanfaat buat menjalin kolaborasi dan kekompakan antar anggota tim, oleh karenanya permainan balap karung estafet kadang juga digunakan buat melatihteam work di permainan outbound .
Untuk menentukan anggota tim dapat dilakukan dengan cara undian seperti pada arisan. Ada kertas-kertas terlipat nan berisi nama-nama pemain. Kertas-kertas itu akan dipilih secara acak. Nama-nama nan terpilih kemudian menjadi satu tim. Apabila permainan ini dilakukan pada seremoni 17 Agustus di kampung, biasanya anggota tim ialah mereka nan tinggal di RT atau RW nan sama melawan anggota RT atau RW nan lainnya.
Sementara itu, apabila permainan ini dilakukan di perkantoran atau pabrik, biasanya anggota tim ialah teman-teman dalam satu divisi atau departemen, melawan tim dari departemen nan lainnya.


Nilai-Nilai Yang Terkandung
Di dalam permainan tradisional balap karung ini ada banyak nilai nan terkandung, nan krusial bagi kita. Ini bukan sekedar permainan buat bersenang-senang, tapi lebih dari itu ada banyak kegunaan nan dapat kita peroleh, yaitu antara lain:

nilai kerja keras

Kerja keras diperlukan setiap peserta buat berjuang berlari di dalam karung mulai dari garis start hingga garis finish .

nilai sportivitas

Nilai sportivitas ini terbentuk ketika setiap orang dan setiap tim harus dengan lapang dada menerima apapun hasil pertandingan. Karena pada dasarnya ini ialah permainan buat menambah keakraban, bukan benar-benar kompetisi nan serius, sehingga meski kalah permainan mengajarkan setiap orang buat berlapang dada.

nilai kerja sama

Nilai kolaborasi ini sangat kental terasa pada permainan balap karung nan dilakukan secara estafet. Setiap anggota tim harus kompak dan berusaha sekuat tenaga agar menang buat timnya.

nilai kekeluargaan

Kekeluargaan juga akan terjalin lebih kuat di antara peserta sebab permainan ini meskipun penuh perjuangan dan keringat namun juga sangat menghibur dan membuat interaksi sosial antar peserta dan bahkan penonton menjadi semakin kuat.

nilai kebersamaan

Nilai kebersamaan tercipta sebab permainan ini ialah permainan lintas batas gender, usia, ras, dan latar belakang. Semua orang dapat ikut bergembira dalam permainan ini tanpa memandang bulu. Tidak ada sekat, tak ada pembatas, tak ada hirarki dalam permainan tradisional balap karung ini. Semuanya bersama-sama merayakan kegembiraan.
Seru sekali bukan permainan balap karung ini? Oleh sebab itu apabila di acara seremoni 17 Agustus Anda menemukan lomba balap karung, baik di kampung loka Anda tinggal maupun di kantor loka Anda bekerja. Jangan ragu buat ikut berpartisipasi. Karena kegembiraan dan kebersamaan nan Anda dapatkan tak terkira harganya. Jenis-jenis permainan seperti inilah nan juga akan memupuk rasa solidaritas dan kesetiakawanan.
Barangkali permainan tradisional balap karung ini pula nan diperlukan oleh setiap orang nan sedang bertikai dengan orang lain. Atau dengan kata lain, dari pada berkelahi dan wafat konyol, lebih baik bertanding secara sportif dalam permainan nan lucu dan penuh tawa. Semoga bermanfaat, pupuk terus jiwa sportivitas dalam diri kita agar tehindar dari konfrontasi dan bisa selalu hayati damai.

BENTENG

BENTENG 

Pengertian 

Permainan benteng-bentengan adalah permainan tradisional dimana permainan ini dimainkan oleh beberapa orang untuk merebut dan mempertahankan benteng agar bisa memenangkan permainan. Sesuai dengan namanya, maka sebuah benteng dalam permainan ini merupakan tujuan atau inti dari permainan ini. Jika permainan ini tidak ada yang namanya benteng, maka tidak akan bisa memainkan permainan ini.
 Sejarah
Sejarah benteng-bentengan yakni awalnya permainan ini di mainkan oleh anak-anak di pedesaan untuk mengisi waktu bermain tepatnya pada saat zaman dulu saat bangsa Indonesia berhasil lepas dari penjajahan. Mengapa demikian? Menurut beberapa sumber bahwa permainan ini mencerminkan perjuangan bangsa Indonesia saat melawan penjajah dimana dalam permainan ini pemainnya berusaha untuk mengamankan daerahnya dan memperoleh kejayaannya yang di simbolkan dengan menduduki benteng lawan. Hal ini sama dengan tindakan rakyat Indonesia ketika zaman penjajahan dimana bengsa Indonesia bersatu mempertahankan daerahnya dan mengusir penjajah agar memperoleh kemerdekaan.
Mengapa dinamakan benteng-bentengan? Karena salah satu markas penjajah pada zaman dahulu sering sering disebut dengan istilah “benteng” misal: benteng Duurstede,benteng Malioboro dan lainnya. Jadi dikenallah istilah benteng-bentengan sampai sekarang yang bertujuan untuk mengenalkan kepada khususnya anak-anak tentang perjuangan rakyat Indonesia untuk menduduki benteng penjajah (merdeka).

 Manfaat Permainan
Bentengan menjadi media anak untuk bersosialisasi karena permainan ini dimainkan secara bersama-sama. Permainan tradisional secara berkelompok dapat berpeluang mengembangkan kecerdasan interpersonal anak. Hal ini dapat dilihat dari relasi interpersonal yang terjalin ketika mengikuti permainan. Permainan ini menuntut semua anak untuk berperan secara aktif dalam mensukseskan permainan tersebut. Anak dapat belajar menghargai orang lain dan aturan kalah-menang dapat menjadi peluang untuk mengembankan aspek tersebut.
Selain itu, permainan ini juga melatih kemampuan anak dalam bekerja sama. Karena pemain harus dapat bekerja sama dalam menjaga benteng, memata-matai musuh, menangkap musuh, dan menduduki benteng lawan. Pemain harus mampu menyesuaikan dengan kondisi kelompok, bisa berempati dengan kelebihan atau kekurangan teman maupun lawan mainnya.
Permainan ini juga mengasah kemampuan menyusun strategi dan meningkatkan kreativitas agar kelompoknya dapat menjadi pemenang. Anak-anak juga berlatih untuk membangun sportivitas. Para pemain harus mampu menaati peraturan, sportif mengakui kelompok lawan yang menang dan ia harus bersedia menjadi tawanan kelompok lawan apabila ia tertangkap oleh pemain lawan. Dengan gerakan-gerakan yang lincah, tentu saja permainan ini mengembangkan motorik kasar anak, meningkatkan dan menyehatkan.
 Aturan Permainan
Permainan bentengan terdiri dari 2 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 4-6 pemain.
Atau boleh juga dilakukan menyesuaikan jumlah anak yang ada, serta tempat yang digunakan. Permainan bentengah dilakukan dengan menjaga benteng yang diwujudkan berbentuk tonggak tiang kayu atau bambu, dapat juga menggunakan pohon hidup. Tonggak dijadikan sebagai basecamp masing-masing kelompok.
Peraturan pertandingan:

Permainan Bentengan
Permain bentengan yang keluar dari basecamp dianggap menyerbu terlebih dahulu. Pemain ini apabila dikejar oleh musuh dan tersentuh tangan oleh musuh dianggap tertangkap. Pemain yang tertangkap ditempatkan tawanan (tempat yang sudah ditentukan sebelum permainan dimulai, biasanya 2 meter sebelah kanan atau kiri dari basecamp).
Pemain musuh mengejar penyerang

Peman ini dapat kembali mempertahankan bentengnya apabila telah diselamatkan temannya, dengan cara menyentuh tangan atau bagian tubuhnya.
Kelompok pemain dinyatakan mendapatkan nilai apabila dapat menyentuh basecamp musuh. Berakhirnya permainan ditentukan oleh kesepakatan para pemain. Kelompok yang kalah akan mendapatkan hukuman, yaitu mengendong kelompok yang menang dari benteng satu ke benteng lainnya, jumlah gendongan tergantung kesepakatan.

Pemain yang ditawan berada di tempat tawanan
Seorang pemain mendapatkan nilai dengan menyentuh basecamp musuh

GEUDEU-GEUDEU

Geudeu–Geudeu, Olah Raga Tradisional Of Aceh


Geudeu – Geudeu adalah salah satu seni bela diri tradisional rakyat Pidie. Budaya Aceh keras dan tegas, Seni bela diri ini seperti gulat yang dimainkan oleh kaum laki-laki. Satu tim terdiri dari 3 orang. Biasanya geudeu-geudeu ini dipertandingkan antar kampung, diadakan setiap selesai panen padi. Kisah kelahirannya berawal dari usaha mengasah ketahanan mental dan jiwa laskar kerajaan. Karena sangat berbahaya, olah raga keras ini tidak pernah memperebutkan juara, karena bisa berakibat fatal.Di Pidie, dahulunya, ketika masa luah blang (pasca panen-red) atau saat purnama, geode-geude kerap dipertandingkan. Pemuda berbadan kejar berbondong-bondong mengikutinya, meski tak ada hadiah selain badan yang lembam. Hadiahnya nyatanya sering tak berwujud, hanya sebuah kebanggaan belaka yang jadi pemuas bagi petarung yang menang. Adu fisik ini hanya sekedar pleh bren alias mengendurkan otot-otot yang tegang melalui pertarungan. Kebangkaan lainnya, sering pula dianggap perkasa dan menjadi lirikan ujung mata para gadis kampung.
Sebagai olah raga keras, petarung geude-geude harus memiliki ketahanan fisik dan mental yang kuat, tahan pukul dan bantingan lawan. Selain itu petarung geudeu-geude juga dituntut kesabaran dan ketabahan. Di sinilah emosi diolah. Bila emosi petarung tidak stabil, maka bisa berujung pada kematian.
Kesabaran para pemain diuji dengan berbagai lontaran kata-kata kasar dari para penonton. Karena itu pula, sepanjang sejarah pertarungan geudeu-geude, belum pernah terjadi pertarungan di luar arena. Artinya, sikap sportif para pemain sangat tinggi. Meski di arena mereka babak belur dan bonyok, tapi di luar arena itu dianggap sebagai sebuah kewajaran.
Akhir tahun 1980-an, geudeu-geudeu masih sering dipertunjukkan di Beuracan, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Biasanya pertarungan ini dibagi dalam dua katagori, yakni antar pribadi dan antar perwakilan kampung. Siapa pun boleh ikut, syaratnya berani dan mampu menahan pukulan serta hempasan lawan.
Sistimnya, para petarung terlebih dahulu diundi untuk memilih lawan tanding. Petarung pertama tampil ke arena untuk menantang dua petarung lainnya. Arena biasanya terbuat dari jerami yang berfungsi sebagai matras. Hal ini untuk mencegah cedera para petarung saat dibanting dan dihempas lawan.
Petarung pertama yang menentang dua lawan disebut ureung tueng (orang yang menantang-red). Sedangkan petarung yang ditantang yang berjumlah dua orang tadi, disebut sebagai ureug pok (orang yang menyerang-red). Ketika diserang, petarung pertama akan memukul dan menghempas dua petarung lain yang menyerangnya.
Pada babak ke dua, posisi pemain dibalik. Posisi tueng akan berlaih ke pok, begitu juga sebaliknya. Hal ini terus berlangsung dalam limit waktu tertentu (ronde-red). Sampai salah satu pihak menang.
Lazimnya sebuah pertandingan, geudeu-geudeu juga dipimpin oleh beberapa orang wasit, yang disebut sebagai ureung seumeugla (juri pelerai-red) yang biasanya berjumlah empat atau lima orang. Para juri tersebut juga merupakan orang orang yang tangkas dan kuat, sehingga mampu melerai para petarung.
Biasanya yang menjadi ureung seumegla tersebut merupakan para mantan petarung geudeu-geudeu itu sendiri, yang memiliki pengalaman dan insting soal geudeu-geudeu.
Seorang wasit geudeu-geude bisa melihat apakah petarung itu memukul dengan sikap profesionalisme atau emosional. Karena antara professional dan emosional petarung itulah wasit berperan menentukan kapan sebuah pertarungan harus dihentikan.
Sebagai sebuah olah raga keras, adalah hal yang lumrah, jika para petarung geudeu-geudeu banyak mengalami luka atau lembam dan memar akibat pukulan dan bantingan lawan. Tak aneh, bila olah raga ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang berbadan kekar.
Zaman dahulu, sebelum pejuang Aceh menuju medan perang, mereka memainkan geude-geude sebagai hiburan sekaligus pemicu semangat juang. Dewasa ini, geudeu-geudeu, nyaris tidak pernah dipertunjukkan lagi, terakhir hanya digelar pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) bulan Agustus 2004 lalu, di Stadion Lampineung, Banda Aceh, itu pun hanya simulasi untuk menarik pengunjung semata. Padahal geudeu-geudeu merupakan olah raga keras yang telah menjadi tradisi di Aceh.
Baru pekan lalu Pemerintah Kabupaten Pidie, kembali menggelar pertandingan geudeu-geudeu di Lapangan Bola Blang Paseh, Kota Sigli, setelah belasan tahun terkubur konflik. Dalam hadih maja, orang Aceh mengenal istilah peunajoh timphan, piasan rapai. Bagaimana kerasnya tabuhan rapai, begitulah kerasnya budaya Aceh. Dan geudeu-geude salah satunya.

PACU JALUR

Olahraga Tradisional Pacu Jalur Kota Teluk Kuantan Kabupaten Kuantan Singingi

PENGERTIAN PACU JALUR
 Pacu jalur merupakan tradisi masyarakat kabupaten kuantan singing yang sudah berlangsung secara turun temurun sejak zaman dahulu.Sejak kapan penduduk rantau kuantan yang tinggal di sepanjang batang kuantan mengenal jalur dan pembuatan nya,tidak dapat ditunjukkan tahun yang pasti.Tapi di perkirakan pacu jalur sudah dikenal penduduk di rantau kuantan ini semenjak tahun 1900.
 Pada mulanya yang dipacukan penduduk kebanyakan perahu-perahu besar yang biasa di pakai untuk mengangkut hasil bumi misalnya tebu,pisang dan lain sebagainya.Perahu-perahu besar ini di pacukan penduduk untuk merayakan berbagai hari besar islam,maulid Nabi Muhammad SAW,hari raya Idul Fitri dan tanggal 1 muharam dan lainnya.
 Semenjak kedatangan Belanda di kota Taluk Kuantan ± tahun 1905,Belanda tetap melanjutkan kegiatan pacu jalur,dan menukar tujuan dan tanggal pelaksanaannya yaitu pada tanggal 31 Agustus dalam rangka memperingati  ulang tahun ratu Wihelmina.
 Hingga tahun 1950 jalur dengar pacu jalur nya belum kembali ke dalam kehidupan budaya masyarakat kuantan singingi,dan pada tahun 1951 dan 1952 sesudah zaman Jepang dan agresi Belanda,jalur kembali ke kehidupan masyarakat kuantan singingi,dimana waktu pelaksanaan dan tujuan melaksanakan dilakukan dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia.Teluk kuantan dan Baserah yaitu dua kecamatan yang selalu mengadakan pacu jalur setiap ulang tahun kemerdekaan.
 Sayang nya, akhir-akhir ini banyak kesenian dan budaya tradisional , permainan rakyat , budaya local sudah hamper punah .  Hal tersebut pelu usaha-usaha untuk pelestarian pelestarian kesenian daerah agar tidak hilang di makan masa. Hal yang menghawatirkan lagi adalah kesenian , budaya atau tradisi local tertentu ada yang menklaim sebagai tradisi atau kesenian daerah mereka. Oleh sebab itu perlu kajian revitalisasi pacu jalur sehingga seluruh proses, aktivitas dan kesenian kesenian yang melekat dengan kegiatan pacu jalur tersebut terdokumen dan merupakan hak cipta atau milik (tradisi) masyarakat kuantan singingi. (pemerintah kabupaten kuantan singingi,2011;1-2)

SEJARAH PACU JALUR
 Jalur adalah “perahu besar”  terbuat dari kayu bulat tanpa sambungan dengan kapasitas 45-60 orang pendayung (anak pacu).Panjang jalur antara 16 m s/d 25 m dan lebar bagian tengah kir-kira 1,3 m s/d 1,5 m.
  Menurut catatan sejarah jalur mulai ada di rantau kuantan sejak abad ke 18.Pada mulanya  jalur yang dipakai sebagai menyambut tamu-tamu terhormat seperti  raja,sultan yang berkunjung ke rantau kuantan.Sejak tahun 1905 jalur tersebut di lombakan (dipacukan) dan mulai saat itu,dikenal dengan nama PACU JALUR.Artinya jalur yang dipacukan (dilombakan) atau lomba jalur.
  Pada masa penjajahan Belanda pacu jalur diadakan untuk memeriahkan perayaan adat,kenduri rakyat  dan untuk memperingati hari kelahiran ratu Belanda wihelmina yang jatuh pada tanggal 31 Agustus  kegiatan pacu jalur pada zaman belanda di mulai pada tanggal 31 agustus s/d 1 atau 2 september.Perayaan pacu jalur tersebut dilombakan selama 2/3 hari,tergantung pada jumlah jalur seperti yang diungkapkan pak Saam (umur 85 tahun) yaitu pada zaman belanda jumlah jalur belum banyak sampai sekarang seperti pada saat sekarang yang jumlah nya sampai ratusan buah.pada masa itu jumlah jalur hanya berkisar antara 22 sampai 30 buah jalur. Dia menambahkan kegiatan terjadi pacu jalur tersebut anak sekolah yang berasal dari desa-desa sekitar di teluk kuantan melakukan suatu upacara  dengan menyanyikan wihelmus sebagai lagu kebangsaan belanda pada saat itu (wawancara  tanggal 11 september 2011).
  Setelah kemerdekaan kegiatan pacu jalur dilakukan 1 kali dalam 1 tahun,dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang jatuh pada tanggal 17 Agustus.Dalam rangka memperingati HUT RI ke 60 di kabupaten kuantan singingi. Kegiatan pacu jalur mengambil tema “peringatan 100 tahun budaya pacu jalur bersempena dengan HUT RI ke 60.
  Kegiatan pacu jalur dilakukan selama tiga sampai empat hari yang biasa nya dimulai pada tanggal 4 agustus. Namun demikian, jika acara HUT RI bertepatan pada bulan ramadhan maka acara pacu jalur tersebut dimajukan pada awal agustus atau bulan juli.
   Selama ini pacu jalur sudah di jadikan event kalender wisata nasional dan di geser hari nya mundur yaitu di mulai pada tanggal 23-26 agustus setiap tahun, kecuali memang pada tahun 2011 ini HUT RI pacu jalur nya di majukan lebih awal karena pertimbangan tertentu seperti bertepatan dengan bulan puasa (bulan ramadhan ) sehingga tidak mengganggu umat selain menunaikan kewajiman nya. (PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011;10-11)


PERATURAN PACU JALUR

1.PANCANG
  Pancang adalah pembatas alur jalan antara satu jalur dengan jalun lain nya. Pancang tersebut terbuat dari batang pisang tersebut digabungkan dengan kayu yang dicecakan sehingga ia menjadi bergandeng di beri tali dan batu pemberat sehingga ia timbul di atas air dan ia tidak hanyut oleh arus ia berbentuk lancip agak kedepan agar jangan menghambat arus air. Sekarang pancang ini mengalami perkembangan tidak lagi terbuat dari batang pisang tetapi dari dahan atau pelepah rambio dan di atas nya di tancapkan bendera merah putih. Pancang ini berjumlah 6 buah arena pacu lebih kurang 1 km sama jaraknya. Jika air kuantan dalam keadaan pasang atau bisa juga pancang tadi hanyut sehingga disebut dengan pancang hanyuik (pancang hanyut).
  Pancang juga di gunakan sebagai hakim garis jika ada salah satu dari jalur lawan nya mengambil jalan melewati pancang ke sebelah nya maka jalur yang salh jalan didiskualifikasi. Jika jalan galur menyisip panjang itu di bolehkan atau jangan pancang tersebut atau di langgar . jika di tabrak atau di anggap gagal.

2.BODIAL
  Bodial sebagai tanda jika ia berbunyi tanda pacu sudah sah dari pancang star. Bedil ini dibunyikan jika haluan-haluan jalur  akan bertarung haluan nya sudah sama dan bendera sudah turun berkibar . jika ada kedua jalur ingin sementara haluan nya belum sama maka partuo jalur bergantung di kayu bendera sehingga bendera tersebut jadi turun maka bodial meletus sebgai tanda sah. Tapi kalau hanya bendera saja yang turun tapi bedil tidak meletus kedua jalur tetap juga pacu maka di pancang finish tetap oleh hakim tidak diputuskan dan harus di ulang kembali hilir mereka . jika tidak juga sama haluan nya sama untuk dilepas maka pada kali yang ke 3 tersebut tetap saja tidak sama haluannya (tidak sejajar) maka kedua jalur tetap dilepas (distart)
  Bila bedil sudah berbunyi ini juga sebagai pedoman oleh hakim dipanjang finish bahwa ia segera melihat jalur yang bertarung tersebut yang mana yang menang .

3.BENDERA START
   Bendera start berwarna merah putih ukuran jumbo (besar) ia digunakan untuk memanggil giliran pacu yang keberapanya , dengan mengibas-ngibaskan bendera. Di sisi kanan dan kiri bendera atau orang yang memegang bendera berdirilah perwakilan kedua partuo jalur yang akan bertarung. Bendera akan dikibas kan kebawah jika masing-masing partuo jalur tadi setuju dan bedil pun meletus sebagai tanda syahnya pacu.

4.POSKO START
  Posko start di isi oleh partuo jalur dari jumlah sama yang akan bertarung dengan masing-masing megang kertas atau cabutan undian sehingga jelas bagi mereka apa nama lawan jalur mereka dari desa mana , kecamatan mana dan jalan sebelah mana yang akan dilalui. Posko start ini bagaimana poskambling yang tidak berdinding tapi beratap .

5.POSKO HAKIM (PANCANG AKHIR)
   Posko hakim (pancang akhir) pada poskoh pancang akhir adalah tempat pimpinan kabupaten yaitu bupati dengan jajaran nya dan kades dengan yang paling rendah mewakili desa nya masing-masing serta undangan seperti mentri, gubernur dengan jajaran pejebat provinsi.
  Hakimnya adalah dari pengadilan atau kejaksaan untuk memudahkan dalam memutuskan sehingga lebih dulu pancang finish maka ia yang menang untuk menghindari tuntutan dari partu jalur maka sekarang ini sudah memakai teropong untuk lebih memastikan jalur jalan  sebelah mana yang menang maka setelah sampai di pancang finish semua pendayung naikkan dayung nya sebagai bertanda sudah sampai . kemudian tukang pinggang (juru kemudi) mengarah kan jalur nya merapat kedepan dewan hakim , maka dewan hakim mengucapka seperti : kata-kata seperti ini :  hilir yang pertama antara jalur keramat jubah merah sebelah kanan dari desa muaro sentajo dengan jalur merak jingga dari desa sawah maka sorak sorai pun beruntung saling bersautan maka yang menang tadi akan segera kembali kepunduang jalur jika ternyata podo (sama tidak ada yang menag) maka di nyatakan ulang . jika di ulang urutan nya adalah tentu adalah hilir yang paling terakhir dari urutan-urutan hilir pacu yang sudah dibuat. (PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI, 2011;51-53)

TUJUAN PACU JALUR
    Secara pesalogis , tradisi pacu jalu memiliki nilai-nilai bimbingan. Suryaneti (2009) menemukann nilai-nilai bimbingan yang terkandung dalam trasidi pacu jalur adalah :
A.      Adanya saling menghargai antara anggota masyarakat
B.      Wadah untuk belajar mengespreikan pendapat
C.      Menumbuh kan kerja sama
D.      Menghilangkan rasa egois
E.       Menanam kan sifat mufakat (bulat air karena , bulat kata karena mufakat)
F.       Memupuk rasa sabar dan lapng dd menerima keputusan (lomak dek awak lomak pulo sek urang , ketuju dek awak ketuju pulo dek urang)
G.     Adanya rasa kebersamaan (pekerjaan berat menjasi ringan karena sipikul bersama) (PEMERINTAH  KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011;6)

PROSES PEMBUATAN JALUR
A.      Rapat panitia pembuatan jalur
Jalur tidak dapat di buat begitu saja tanpa melalui berbagai proses baik yang menyangkut masalah tenaga ,biaya maupun yang menyangkutmasalah teknis lainnya seperti  : tukang jalur,partuo jalur atau panitia jalur serta lainnya. Sebelum jalur sibuat ,terlebih dahulu dibentuk panitia atau pengurus yang tugas nya mengurus segala sesuatu yang diperlukan dan diperdiap kan dalam proses pembuatan jalur . pengurus itu disebut denganpertuo jalur  yang diartikan orang yang ditugaskan salam proses sebagai ketua panitia pembuatan jalur. Atau dengan makna lain adalah orang yang dituakan , yang didahulukan selangkah , dan yang ditinggikan seranting  dalam urusan jalur di masyarakat. Pada umumnya pengurus pembuatan jalur disebut panitia jalur , tetapi dibeberapa desa seperti desa siberakun lebih akrab menyebut panitia dengan partuo jalur . (wawancara dwngan pak rusli , umur 60 tahun)
         Untuk rapat panitia pembuatan jalur dimulai dari adanya canang banjar yang dipukul  oleh orang yang sudah ditunjuk oleh kepala desa(kades) yang disebut dengan tukang canang . dirantau kuantan orang yang ahli dalam suatu bidang disebu dengan istilah tukang .  dehingga kalau ahli dalam bercanang disebut dengan tukang canang . orang yang ahli dalam membuat rumah disebut dengan tukang rumah dan orang yang ahli dalam membuat jalur disebut dengan tukang jalur. ( lihat lebih jauh yusrianto : 2000).
        Canang adalah alat bunyi-bunyian berupa celempong tunggal yang di pukul oleh tukang canang pada malam hari tatkala menyampaikan beberapa pengumuman di desa.  Tukang canang perannya adalah memberitahukan dan mengumumkan tentang rapat untuk pembuatan jalur. Tukang canang berkeliling kampong sambil memukul canang yang jarak nya sekitar sepuluh rumah begitu seterusnya sampai batas dari  kampong tersebut dan singgah deisetiap ada kedai kopi . orang-orang yang berada dikedai kopi tadi akan bertanya tentang apa isi canang tadi atau pengumuman tadi . biasanya dijawab oleh tukang canang dengan jawaban  bahwa besok kita akan mengadakan rapat jalur dib alai desa selepas maghrib dan tidak ada membawa apa-apa . kata-kata yang diucapkan tukang canang tersebut antara lain :
        “oh urang banjar iko , la tibo pulo parentah dalam banjar . banso bisuak malam , ptang omi malam jumat , kito/awak basamo-samo hadiar dalam balai desa untuak rapek mambuek jaluar baru kito . acaranyo lopemagorit sebelum isya. Aa ndak aso yang kan dibaok ro !! lai obe ru!!
      Artinya : “ hai orang yang ada dalam negri ini , sudah dating perintah di negri ini. Bahwa besok malam yaitu petang kamis malam jumat kita bersama-sama dengan orang tua , kepala keluarga, anak muda dapat bersama –sama hadir dib alai desa untuk rapat mmbuat jalur baru kita . acaranya dimulai selepas maghrib  sebelum isya ,nah tidak ada yang akan dibawa,nah , sudah tau kan .” (wawancara sengan gelar mawardi dengan gelr itam , sabtu malam , 10 september 2011 di pondokan kedai  pulu bungin siberakun)
      Ada juga dalam versi yang sudah agak lebih modern yaitu sudah memakai surat undangan yang di edarkan oleh pak RT masing-masing. Dalam hal ini trjadi pergeseran karena kesibukan masing-masing dan menghemat waktu karena tukang canang terlalu capek/lelah bekerja dikebunnya siang itu. Agar beita lebihefektif dan efisien untuk penyampaiannya dibuar dalam bentuk undangan . media canang sebagai penyampaian pesan mempunyai nilai kearifn local karena menghemat pemakaian kertas . dengan adanya canang sebenar nya sudah menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar karena dengan adanya surat undangan akan menyebabkan banyak sampah yang berserakan dan pada akhirnya dapat meruak lingkungan .
      Dalam malam rapat tersebut disusunlah kepanitiaan nya berdasarkan hasil kesepakatan pada malam yang bersangkutan dengan adanya partuo jalur yang terpilih tasi dibantu oleh kirani (sekretaris)dan juga seksi-seksi lainnya yang membantu seperti humas , pengarahan massa dan seksi dana . dalam rapat ini juga dibicarakan tentang kemungkinan apa jenis kayu yang akan digunakan daan di jadikan untuk pembuatan jalur dan siapa yang akan menjadi dukun jalur yang cocok dan sesuai untuk itu. Bahkan dalam rapat itu juga sudah ada kesepaktn  berapa besar nya setiap kepala keluarga (KK)  memberikan sumbangan . untuk daerah kuantan mudikmisalnya ditetapkan  Rp.100.000 per (KK) .Hal ini berbeda dengan daerah siberakun yang pada umumnya hasil rapat jalur itu secara suka rela sesuai dengan kemampuan masing-masing dari warganya. Tetapi besarab sumbangan terendah sudah ditetap kan Rp.50.000 . bagi PNS dan pedagang tentu diprediksi akan menyumbang lebih besar jika dibandingkan dengan yang berprofesi sebagai penyadap karet . ( wawancara dengan duski mansyur Spd anggot DPR kab. Kuansing, ahd , 11 september 2011 di rumahnya di siberakun).
     Badi peserta rapat sudah mempersiapkan dana-dananya akan langsung secara spontan untuk menyebutkan sumbanhan nya sebagai upaya untuk memotivasi dari yang lainnya secara fastabiqul khairat .. bahkan ada yang menyumbang yang tidak mau untuk disebutkan namanya hanya dengan nama dari hamba allah sekian puluh ribu rupiah dan setrusnya sesuai dengan besaran jumlah nominal sumbangan nya .

b. MENCARI KAYU JALUR
      Setelah partu terbentuk , maka dicarilah kayu jalur sesuai dengan kesepakatan hari untuk mulai mencarinya dari hasil rapat panitia jalur dengan janji dimana kita menunggu satu sama lainnya, persiapan apa saja yang diperlukan menyankut perkakas yang akan dibawa seperti : kampak , beliung , parang san pakaian kehutan serta makan , minuman san kue yang akan dibawa serta juga ditentukan siapa penunjuk jalan dan mlalui arah kekebun siapa rute perjalanan yang akan dilewati.
      Jenis kayu yang dipilih biasanya jenis kayu kuat dan dapat tahan air bukan dari kayu lampung atau mayiang serta tidak midah pecah kalau dibuat menjado jalur. Diantara jenis kayu yang dipilih yang di anggap baik antara lain adalah kayu tonam , kayu kure, kayu kuyuak , kayu banio, dan kayu marantia sogar serta kayu lainnya yang kuat. Dalam mencari kayu jalur ini ada aturan-aturan yang secara konvensi harus dilaksanak dan dilalui yaitu bila ketemu dengan kayu yang sedang dilihat tersebut maka kita harus terlebi dahulu mengelilinginya sengan cara merintis sengan membuat lingkaran atau persegi empat dan melakukan proses yang disebut menandai dengan tanda yaitu dalam bentuk meletakkan kait untuk merintis tadi di jalan masuk pertama ketika proses mengelilingi kayu dimulai. Kemudian kayu itu diberi tanda dengan tulisan yang terbuat dari cat merah atau arang kayu keras . tulisan itu adalah bertuliskan nama jalur atau nama desa mereka. Setelah ditulis seperti itu , adanya tanda yang dibuat itu tulisan nya bukan dalam bentuk mendatar mengelilingi kayu sesuai radiusnya  tetapi adalah dari atas tengah kayu kebawah sehinggaq untuk menuliskan  agak terlalu tinggi dan besar maka dibantulah dengan tuki . tuki adalah sejenis alat dalam bentuk tangga-tangga yang dapat digunakan sebagai  tangga yang terbuat dari kayu yang di sorongkan kecupang kayu lain dan ada yang diikat kan dengan akar .maka kewajiban selanjutnya adalah mengambil bahan urat kayu besarnya dari kayu yang bersangkutan untuk dapat di amalkan dalam beberapa malam berikut ini.ini baru salah satu kayu yang ditandai. Biasanya kayu yang ditandai tidak cukup hanya satu biasanya sampai 3 batang dengan proses yang sama dari awal hingga akhir. Pekerjaan selanjutnya adalah ada pada dukun tadi sehingga ia punya waktu untuk memilih kayu mana yang paling baik dijadikan jalur termasuk pertambangan intennya komunikasi  sang dukun dgn mambang kayu tersebut dan tarik menarik argumen  antara mambang dan sang dukun sehingga bias bekerja sama untuk dimanfaat kan sebagai jalur .(wawancara sengan mudarus yang digelar bendahara, sabtu, 27 agustus 2011 dirumahnya di ujung tanjung)

C.MANOBANG  JALUR

   Jika kayu yang telah dicinai tadi selama beberapa malam telah diamal kan oleh dukun jalur dengan banir tua yang sudah ia miliki maka sampailah ia kepada keputusan kayu mana diantara beberapa pokok tadi yang akan ditebang dan seterusnya dan seterusnya akan dibawa kedesa untuk di hela dan ditarik dengan cara bergotong royong setiap minggu mereka pergi kembali kehutan rimba seperti proses ketika akan mencari kayu seperti semula, akan tetapi persiapan nya sudah lebih lengkap bila dibandingkan dengan mencari atau mencinai kayu Karena mereka teleh membawa apa-apa saja yang diperlukan untuk acara penebangan  sebaimana yang dikehendaki oleh mambang atau penghuni kayu tersebut . dari wawancara penulis ada 3 permintaan yang sering diminta oleh penghuni kayu tersebut . pertama, adalah dua ekor ayam jantan itam jamui dan paruh atau cotokannya . jika ini yang dimintanya maka sang dukun akan duduk terlebih dahulu menghadap kayu tersebut dan posisi kayu adalah sebelah barat dukun berarti dukun juga menghadap kebarat , setelah ia berdo’a dan menyapukan kedua telapak tangan nya ke muka maka ia bangkit dari duduknya lalu menyembelih ayam yang satunya dengan beliunfg yang akan digunakan sebagai untuk menebang dan darah nya harus membasahi banir tua dari kayu  Tersebut . kemudian ayam tadi di bobak (dikuliti) dan di cuci degan air sungai yang ada disekitar tempat kayu tersebut kemudian di beri garam dan di panggang atau di bakar dengan menggunakan kayu kayu yang mersik dan mati di sekitar areal tersebut. Setelah masak maka di berikan kepada tukang , dukun sendiri, anak buah tukang atau tukang pengapit serta partuo,dan rombongan masyarakat yang menyertai. Setelah makan dan minum tadi barulah oleh sang dukun meliahan kea rah mana kayu tersebut akan tumbang. Jika ada perbedaan pendapat tentang arah tumbangnya maka terlebih dahulu harus di selesaikan agar ada kata mufakat dan suara bulat jika masih  ada selang sengketa pendapat maka ini nanti sebagai alamat jalur akan minta korban atau tumbal pada masyarakat sebagai tumbal nya. Hal ini sudah pernah terjadi seperti halnya yang di alami oleh kasin (Alm).beliau waktu muda kena oleh giligan jalur bomber 1958 keti jalur mau di hela atau di tarik. Akhir nya dia mengalami cacat seumur hidup dengan kaki dan tangan tidak bias di gunakan yang diseubut layuah oleh masyarakat setempat sampai yang bersangkutan menemui ajal nya sehingga belum pernah merasakan hidup berumah tangga
    Setelah tempat tumbang telah di sepakati maka kegiatan selanjut nya adalah membersih kan ranting dang mengukur berapa depa panjang jalur tersebut kemudian di beri boriaco/basi (sisa ujuran kayu agar jangan pas-pasan sehingga ada tenggang mana tahu ujung dan pangkal nya pecah). Jika hari sudah petang mka baru lah pulang kembali ke kampung. Kalau jaman dahulu seperti tahun 1958 mereka para tukang dan partuo jalur membuat barung-barung (kemah) selama mengerjakan jalur tersebut sampai dengan mendiang atau melayur.
     Ketika mau pulang tadi ayam itam jamui yamh satu nya lagi di lepaskan sehingga nanti apakah ayam tersebut bertahan hidup atau malah memilih untuk mengikuti rombongan tadi. Jika memilih mengikuti maka itu sebagai pertanda bahwa mambang tadi mau ikut dengan mereka terutama sang dukun artinya dia bias di suruah serayo (bias untuk minta tolong). Bahkan ada juga ayam tersebut tidak ikut tetapi ia kelihatan linglung serta bahkan menjadi ayam hutan yang liar kembali serta berkembang biak di hutan tersebut
    Versi yang ke dua, yaitu membawa ayam kuniang biriang (kuning seperti orang yang kena beri-beri),semuanya kuning. Jumlah hanya satu ekor saja guna nya untuk mendarahi penebangan itu agar jangan mendapat halangan. Versi yang ketiga, terserah apa saja warna bulu ayam nya tetapi setelah di sembelih untuk darah nya di ambil maka ayamnya oleh sang dukun di bawa pulang untuk di masak tetapi isi dalam nya ia sendiri yang memakan nya. Berdasarkan isi perut ayam tersebut ia akan tahu keadaan kayu tersebut apakah berlobang, dan kalau berlibang di bagian mana saja. Kemudian setelah kayu itu di tebang maka iya ganti dengan kayu kecil dan ditancap kan di atas pohon yang di tebang tadi yang di maksudkan sebagai pengganti kayu yang sudah di tebang di tumbang kan tadi. Aneh nya seperti terjadi pada jalur rajo mudo dubalan kuantan pulau bungin kayu yang ditancapkan tadi ternyata tumbuh, hidup dan berkembang sebagai kayu lainnya ujang sang dukun pada hal ia tidak ditanam di tanah secara langsung.jenis kayu nya yang ditancapkan itu adalah kayu binio. (wawancara dengan dukun kayu jalur, ahad, 11 september 2011 di rumah nya).

D.MAELO JALUR
  Proses maelo jalur  dimulai juga dengan ada nya canang banjar yang akan mengumumkan tentang acara untuk besok pagi kita akan bergotong royong menarik jalur dari hutan rimbo ke desa.Dengan bunyi canang oh urang banjar iko lah tibo lo perintah dari banjar bahwa bisuak pagi awak besamo-samo maelo jalur awak tu di rimbo gono yaitu rimbo kukok.Untuak itu kepado induak-induak,ondek-ondek tolong di bao bungkui nasi sa ibek nasi bisuak dan buek tambual bawoan untuak awak dan untuak urang. Nan jantan bapak-bapak bao ladiang saruang kapak atau baliuang untuak menobang jalur,lai obe ru.Nah awak bekumpual di tompek panyaborangan (kompang).
  Pada hari berikut nya saat akan pergi maelo jalur maka orang bujang ada di kampong itu akan mengantarkan beras,tepung,telur,ikan sarden besar dengan segala perlengkapan yang akan di masak ke rumah goraan nya (pacar) akhir nya besok pergi ikut secara bersama-sama untuk pergi maelo jalur dari hutan.
  Setelah mereka berkumpul di tempat yang telah di janjikan tersebut maka dalam perjalanan yang berkelompok-kelompok tersebut ada yang di tunjuk untuk penunjuk jalan dari partuo jalur.Dalam perjalanan tersebut tidak sampai dari surak-surak adalah semacam  pertanda ada teman lain,ada apa tidak di dalam hutan rimbo tersebut.Jika surat tadi dibalas,maka berarti ada orang lain,teman kita yang menyukai ada penyadap karet,atau mencari rotan,dammar,cari petai,juga kebun dan pekerjaan  mencari   hasil hutan lainnya.Dalam perjalanan tersebut dalam berbual-bual dengan cerita lucu dan konyol serta diberikan dengan berbagai teka-teki yang baik dan bahkan jenaka dan lucu seperti aponyo aang iko aa.Ndok ndiang artinya tersisik di dinding (sendok tersisip di dinding) kelompok yang tidak bisa membalas  lagi dengan teka-teki sebagai balasan dari 1-0 yang di terima yaitu : koa kok bisa dek aang menjawab nya.enyo mintak di masuak an la di masukan inyo di luar jo,apo nyo aang,aponyo kau.(dia mintak di masukkan tapi setelah di masukkan di masih di luar juga) jawabannya adalah buah baju (kancing baju).Begitulah seterusnya dengan berbagai  teka-teki yang saling balas-membalas akhirnya dengan tidak terasa mereka rupanya telah sampai ke pungko jalur.Semakin jauh tempat mencari jalur semakin banyak teka-teki dan cerita dlm perjalanan tersebut.
  Hal seperti itu dimaksudkan juga adalah sebagai pengontoran (untuk menghilangkan dari rasa takut dari tempat tempat yang anker hutan sunyi tersebut). Maka sudah sampai rombongan tadi beristirahat sejenak partuo jalur membuat dan mencari tali untuk maelo jalur yang terbuat dari rotan dan dengan kebudian di iekekan di luar jalur dengan menyangkut kan di telinga jalur yang masih sabal. Sabal adalah semacam bayangan jalur yang sudah berbentuk dan tidak lagi dalam bentuk kayu bulat tapi sudah agak ringan untuk di tarik bersama-sama. Setelah ada tali untuk ditarik secara bersama-sama. Setelah tali siap ada aba-aba dari naik tangan dari yang mengucap kan lah ado tali di tangan. Pogang tali,dengan aba-aba 1-2-3 tariak torui panjang mungkin
   Jika kelihatan orang yang maelo jalur sudah kelihatan lelah maka tambual dan kue-kue tersebut sudah bisa untuak di makan dengan membentangkan tikar atau beralaskan daun-daun rimba, bagi yang punya pacar tadi maka di perboleh kan makan ke semak sambil membawa bekal yang telah dibawa dan di persiap kan dari tadi pagi,bahkan tadi makan tambual dan kue ini di keluarkan pada jam 10.00 wib tadi pagi. Kemudian setelah ini di lakukan, maka kembali di suruh untuk menarik jalur kembali dengan aba-aba yang sam yaitu 1,tali dipogang 2,badan membungkuak 3,menangkui. Maka menjelang siang berati maka masuk waktu suhur dengan sholat dan makan siang. Selesai hal itu mka lanjutkan kembali sampai dengan waktu asar, tapi ketika anggota maelo jalur jadi kecapean maka partuo jalur akan memutus kan tali dengan menconcang dengan menggunakan parang tajam dan orang sekuat-kuat nya dengan tenaga menarik jalur, maka ketika tali putus orang yang berpacaran tadi akan jatuh berhimpitan dengan pacar bahkan serak serai pecah kembali di antara mereka para peserta penarik jalur ada yang saling membersih kan pakaian masing-masing dan urutan di antara mereka.
    Ketika hari sudah soreh mereka pulang bersama-sama untuk menuju rumah maasing-masing dengan perjalanan yang  sangat melelah kan maka agar terasa perjalanan mereka kembali berbual-bual (berceri yang lucu dan jenaka) dari orang yang sudah di tentukan atau bah di tingkah orang lain lagi. Meelo jalur jalur ini biasa nya biasa nya hanya di lakukan setiap hari , minggu/ahad sehingga bahwa jalur tersebut samapi di desa memerlukan waktu lebih kurang 3 bulan,itu dengan catatan jika jalur tidak terbenam di dalam lumpur kalau tetanam itu lebih lama lagi.
  Akan tetapi sekarang ini masyarakat mulai bergesr maelo jalor ini dengan menggunakan chainsaw dalam menebang dan dalam bentuk kayu bulat di tarik ke desa dengan menggunakan cartefilar atau alat berat sehingga masyarakat tidak perlu setiap ahad pergi ke rimba tetapi cukup dengan beriuran untuk biaya nya mebawa nya ke desa.Hal ini jika terus menerus terjadi maka  kebersamaan dan semangat gotong royong sudah mulai luntur bahkan sudah untujk muda-mudi mengenali lawan jenis nya semakin tidak ada dan antar mengantar sesuatu yang akan di masak tidak ada lagi sehingga suatu saat ini bisa saja memintak nya tidak pandai memasak karena dengan maelo jalur lah seorang wanita bersama memasak dengan baik dan enak agar orang yang mengatar bekal tersebut yang tidal lain adalah pacarnya sendiri enak dan lahap dalam memakan dan mencicipi hasil makanan nya.

E. PEMBUATAN JALUR
  Pembuatan jalur di hutan tempat kayu tersebut,di tebang bukan lah sampai selesai sampai 100% tetapi penggarapan jalur tersebut hanya selesai kira-kira 50%.Tujuan nya agar kayu yang akan di tarik besama-sama oleh masyarakat yang sudah dewas tidak terlalu berat karena badan jalur bagian tengah sudah banyak yang di kurangi.Penarik jalur dari hutan( dari tempat kayu jalur) di tebang sampai ke desa biasanya di tepui salah satu lapangan bola akan tempat yang cukup luas dan strategis untuk menyelesaikan pembuatan jalur.
  Pembuatan jalur selayak jadi seperti yang di gambar tadi mengalami perubahan maka sejak tahun 1991. Artinya,sebagian jalur telah diproses sampai selayak jadi di hutan sebagai batang dip roses di desa tersebut. Karena terbuka nya akses jalan dari hutan ke desa. Pada umumnya akses jalan tersebut di buat oleh perusahaan yang beroperasi di wilayah kabupaten,kuantan singing. Dengan demikian hanya jalur yang sudah du tebang di hutan dapat di angkat dengan menggunakan truk sampai ke desa. Setelah sampai di desa barulah kayu bulat tersebut diproses pembuatan nya sampai selesai dan siap untuk di lombakan. Jika kayu jalur yang masih bulat itu di olah di tari bersama-sama oleh masyarakat. Ia tidak akan langsung ditarik karena sangat berat walaupun bisa ditarik maka akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan hal tersebut akan menggangu anggota masyarakat untuk menjalankan pekerjaan rutin meraka sehai-hari.( PEMERINTAH KABUPATEN KUANTAN SINGINGI,2011; hal 11-24)     

LOMPAT TALI

LOMPAT TALI

  • Pengertian Lompat Tali
Permainan adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan manusia. Dimulai dari usia kanak-kanak bahkan sampai usia dewasa sekalipun, manusia tetap tidak bisa terlepas dari permainan. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya permainan yang tersedia saat ini di pasaran. Sebagai contoh adalah permainan lompat tali. Sebenarnya permainan-permainan tradisional (permainan rakyat) itu mengandung unsur-unsur pendidikan yang sangat baik, misalnya mengajarkan orang untuk sprortif, jujur dan kreatif. Misalnya, dulu kalau ingin main mobil-mobilan, kita buat sendiri. Anak-anak sekarang sudah tak mau lagi.
Permainan lompat tali secara fisik akan menjadikan anak lebih kuat dan tangkas. Belum lagi manfaat emosional, intelektual, dan sosialnya yang akan berkembang dalam diri anak tersebut.
Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sekarang, “main karet” mulai dilirik kembali antara lain karena ada sekolah dasar menugaskan murid-muridnya membuat roncean tali dari karet gelang untuk dijadikan sarana bermain dan berolahraga.
Cara bermainnya masih tetap sama, bisa dilakukan perorangan ataupun berkelompok. Jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang, batang pohon atau pada apa pun yang memungkinkan, lalu melompatinya. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala dan kaki sambil melompatinya.
Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal 3 anak. Diawali dengan gambreng atau hompipah untuk  menentukan dua anak yang kalah sebagai pemegang kedua ujung tali. Dua anak yang kalah akan memegang ujung tali; satu di bagian kiri, satu anak lagi di bagian kanan untuk meregangkan atau mengayunkan tali. Lalu anak lainnya akan melompati tali tersebut. Aturan permainannya simpel; bagi anak yang sedang mendapat giliran melompat, lalu gagal melompati tali, maka anak tersebut akan berganti dari posisi pelompat menjadi pemegang tali. Alat yang dibutuhkan cukup sederhana. Bisa berupa tali yang terbuat dari untaian karet gelang atau tali yang banyak dijual di pasaran yang dikenal dengan tali skipping umumnya digemari anak laki-laki. Meski demikian, segala permainan lompat tali sebetulnya bisa dimainkan anak laki-laki maupun perempuan tanpa memandang jender. selain menyenangkan, permainan ini tak banyak memakan waktu, murah, dan menyehatkan. Jadi cocok untuk mengisi waktu senggang anak-anak ketimbang mereka main lari-larian tanpa tujuan. Salah satu cara yang diimbau dengan memberi kesempatan anak untuk main lompat tali di waktu istirahat.
Untuk bermain tali secara berkelompok, anak membutuhkan teman yang berarti memberi kesempatannya untuk bersosialisasi. Ia dapat belajar berempati, bergiliran, menaati aturan, dan lainnya.
Saat melakukan lompatan, terkadang anak perlu berhitung secara matematis agar lompatannya sesuai dengan jumlah yang telah ditentukan dalam aturan permainan. Umpamanya, anak harus melakukan tujuh kali lompatan saat tali diayunkan. Bila lebih atau kurang, ia harus menjadi pemegang tali.
Permainan lompat tali adalah permainan yang menyerupai tali yang disusun dari karet gelang, ini merupakan permainan yang terbilang sangat populer sekitar tahun 70-an sampai 80-an, menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Sederhana tapi bermanfaat, bisa dijadikan sarana bermain sekaligus olahraga. Tali yang digunakan terbuat dari jalinan karet gelang yang banyak terdapat di sekitar kita. Cara bermainnya bisa dilakukan perorangan atau kelompok, jika hanya bermain seorang diri biasanya anak akan mengikatkan tali pada tiang atau apa pun yang memungkinkan lalu melompatinya. Jika bermain secara berkelompok biasanya melibatkan minimal tiga anak, dua anak akan memegang ujung tali; satu dibagian kiri, satu lagi dibagian kanan, sementara anak yang lainnya mendapat giliran untuk melompati tali. Tali direntangkan dengan ketinggian bergradasi, dari paling rendah hingga paling tinggi. Yang pandai melompat tinggi, dialah yang keluar sebagai pemenang. Sementara yang kalah akan berganti posisi menjadi pemegang tali. Permainan secara soliter bisa juga dengan cara skipping, yaitu memegang kedua ujung tali kemudian mengayunkannya melewati kepala sampai kaki sambil melompatinya.
Sebenarnya permainan lompat tali karet sudah bisa dimainkan semenjak anak usia TK ( sekitar 4 – 5 tahun ) karena motorik kasar mereka telah siap, apalagi bermain lompat tali dapat menjawab keingintahuan mereka akan rasanya melompat. Tapi umumnya permainan ini memang baru populer di usia sekolah ( sekitar 6 tahun ). Jenis permainan lompat tali terbagi menjadi dua : Lompat kaki yang bersifat santai dan yang bersifat sport / olahraga. Lompat tali yang santai biasanya dimainkan oleh anak perempuan sedangkan yang sport / olahraga dimainkan oleh anak laki – laki. Dengan kata lain, permainan lompat tali tersebut bisa dimainkan oleh laki – laki maupun perempuan tanpa memandang gender.
 Sejarah
Hingga kini belum jelas juga dari mana asal muasal permainan ini. Namun banyak pihak menduga bahwa permainan yang sangat populer di tahun 70-an hingga 80-an ini berasal dari Eropa yang dibawa ke Nusantara dan dimainkan oleh anak-anak Belanda pada masa penjajahan. Hal ini sangat relevan mengingat permainan lompat tali di Belanda juga dipegang oleh dua orang sedangkan satu orang melompat di antara putaran talinya. Sedangkan di wilayah Eropa lainnya, permainan ini dimainkan oleh satu orang saja sebagaimana yang biasa dimainkan saat lompat tali ketika sedang berolahraga.
Meski belum jelas benar asal mula permainan ini, namun beberapa pihak mengatakan bahwa permainan ini telah dimainkan di Mesir sejak 1600 tahun sebelum Masehi. Namun terdapat pula argumen yang menyatakan permainan ini berasal dari China mengingat variasi permainan lompat tali begitu beragam di negeri tersebut hingga ke dataran Jepang. Namun ada pula pendapat yang mengatakan bahwa suku Aborigin di Australia telah memainkan permainan ini turun-temurun, mereka menggunakan media bambu, atau tanaman merambat lain yang ada di hutan.
Lompat tali atau “main karet” pernah populer di kalangan anak angkatan 70-an hingga 80-an. Permainan lompat tali ini menjadi favorit saat “keluar main” di sekolah dan setelah mandi sore di rumah. Permainan lompat tali dimainkan secara bersama-sama oleh 3 hingga 10 anak.
Kapan dan dari mana permainan ini bermula sulit diketahui secara pasti. Namun, dari nama permainan itu sendiri dapat diduga bahwa permainan ini muncul di zaman penjajahan. Sebenarnya di daerah lain indonesia juga banyak di temukan permainan ini tapi dengan nama yang berbeda misal dengan nama Yeye, Tali Merdeka (Riau), Lompatan dan lain-lain.
Peralatan yang digunakan dalam permainan lompat tali sangat sederhana, yaitu karet gelang yang dijalin atau dirangkai hingga panjangnya mencapai ukuran yang dibutuhkan, biasanya sekitar 3 sampai 4 meter.

  • Komponen yang Dibutuhkan dalam permainan lompat tali
Permainan lompat tali ini tidak membutuhkan peralaatn khusus untuk memainkannya. Pemain hanya memerlukan lapangan kosong sebagai arena dan karet yang sudah disambung sedemikian rupa. Dan selanjutnya permainan siap untuk dimainkan.
  Cara Bermain
  1. Para pemain melakukan hompipah atau pingsut untuk menentukan dua orang pemain yang menjadi pemegang tali.
  2. Kedua pemain yang menjadi pemegang tali melakukan pingsut untuk menentukan siapa yang akan mendapat giliran bermain terlebih dahulu jika ada pemain yang gagal melompat.
  3. Kedua pemain yang menjadi pemegang tali perentang tali karet dan pemain harus melompatinya satu persatu. ketinggian karet mulai dari setinggi mata kaki, lalu naik ke lutut, paha, hingga pinggang. Pada tahap-tahap ketinggian ini, pemain harus melompat tanpa menyentuh tali karet. Jika ada pemain yang menyentuh tali karet ketika melompat, gilirannya bermain selesai dan ia harus menggantikan pemain yang memegang tali.
  4. Posisi tali karet dinaikan ke dada, lalu dagu, telinga, ubun-ubun, tangan yang diangkat ke atas dengan kaki berjinjit. Pada tahap-tahap ketinggian ini, pemain boleh menyentuh tali karet ketika melompat, asalkan pemain dapat melewati tali dan tidak terjerat. Pemain juga diperbolehkan menggunakan berbagai gerakan untuk mempermudah lompatan, asalkan tidak memakai alat bantu.
  5. Pemain yang tidak berhasil melompati tali karet harus menghentikan permainannya dan menggantikan posisi pemegang tali. Jika semua tanggap ketinggian telah berhasil diselesaikan oleh para pemain, tali karet kembali diturunkan dan permainan dimulai dari awal. Begitu seterusnya hingga para pemain memutuskan untuk mengakhiri permainan ini.

  • Manfaat Permainan Lompat Tali
  1. Memberikan kegembiraan pada anak
  2. Melatih semangat kerja keras pada anak-anak untuk memenangkan permainan dengan melompati berbagai tahap lompatan tali
  3. Melatih kecermatan anak
Untuk dapat melompati tali (terutama pada posisi-posisi tinggi), kemampuaan anak untuk memperkirakan tinggi tali dan lompatan yang harus dilakukanya akan sanagat membantu keberhasilan anak melompati tali.
  1. Melatih motorik kasar anak
Untuk membentuk otot yang padat, fisik yang kuat dan sehat, serta mengembangkan kecerdasan kinestetik anak. Permainan yang dilakukan dengan lompatan-lompatan ini juga bermanfaat menghindarkan anak dari resiko mengalami obesitas.
  1. Melatih keberanian anak dalam mengasah kemampuanya untuk mengambil keputusan. Hal ini karena untuk melompat tali dengan ketinggian tertentu membutuhkan keberanian untuk melakukannya. Anak juga harus mengambil keputusan apakah akan melompat atau tidak.
  2. Menciptakan emosi positif bagi anak.
Ketika bermain lompat tali, anak bergerak, berteriak, dan tertawa. gerakan, tawa, dan teriakan ini sangat bermanfaat untuk membuat emosi anak menjadi positif.
  1. Menjadi media bagi anak untuk bersosialisasi.
Dari sosialisasi permainan ini, anak belajar bersabar, menaati peraturan, berempati, dan menempatkan diri dengan baik diantara teman-temanya.
  1. Membangun sportifitas anak.
Pembelajaran melalui sportifitas ini di peroleh anak ketika harus menggantikan posisi pemegang tali ketika ia gagal melompat.

BOY-BOYAN

Boy-boyan

(sumber foto: http://www.bloggersurabaya.web.id/2013/03/permainan-tradisional-boy-boyan.html)
TIDAK bisa dipungkiri, kehadiran berbagai gadget canggih yang bisa melakukan apa saja seakan membunuh hampir semua jenis permainan tradisional. Banyak anak-anak yang lebih memilik bermain angry birds di tablet atau ponsel dibandingkan bermain petak umpet di lapangan. Alasannya beragam, mulai dari panas kalau main di luar atau permainan tradisional sudah tidak up to date lagi. Padahal hampir semua permainan tradisional itu mampu memberikan lebih banyak efek positif dibandingkan dengan hanya bermain playstation atau tablet.
Salah satu permainan tradisonal yang sudah mulai tersisih oleh gadget dan jarang sekali dimainkan oleh anak-anak ialah “Boy-boyan”. Jenis permainan seperti apa ini? Permainan yang menyerupai anak laki-laki? Atau permainan yang dikhususkan untuk anak laki-laki?
Tentu saja bukan dikhususkan untuk anak laki-laki, anak perempuan pun bisa bermain boy-boyan. Sebenarnya, permainan ini memiliki nama yang berbeda-beda di setiap daerahnya. Misal, di daerah Pati, Jawa Tengah, permainan ini dikenal dengan nama Gaprek Kempung. Di daerah Sunda, ada yang menyebutnya boy-boyan, ada juga yang menyebutnya bebencaran. Dan di beberapa daerah lainnya permainan ini disebut Gebokan, karena katanya suara yang biasa ditimbulkan apabila bola karet yang digunakan dalam permainan mengenai anggota badan dari pemain akan menimbulkan suara “Gebok”.
Walaupun memiliki sebutan yang berbeda-beda, pada intinya permainan boy-boyan ini adalah sama. Permainan tradisional dari Jawa Barat ini memadukan kerja motorik anak dan juga mengasah kemampuan membuat strategi. Boy-boyan sendiri biasanya terdiri dari lima hingga sepuluh pemain yang dibagi menjadi dua kelompok dan dilakukan di lapangan yang cukup luas.
Permainan ini menggunakan alat yang bisa didapat di mana saja dan tak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkannya. Seperti pecahan genting yang bisa didapat disekitar rumah atau kaleng susu bekas dan sebuah bola kecil yang empuk (bisa dibuat dari buntalan kertas yang dilapisi plastik). Ingat bolanya harus empuk ya Sobat Djadoel! Karena selain untuk dilempar ke susunan genting yang berbentuk menara, bola ini juga digunakan untuk dilempar ke tubuh pemain. Jadi, diusahakan bolanya harus empuk agar tidak melukai pemain.
Model permainannya yaitu menyusun lempengan pecahan genting menyerupai menara yang kemudian harus dirubuhkan menggunakan bola dan harus disusun kembali seperti semula. Sesimpel itukah cara mainnya? Ternyata tidak semudah itu loh bermain boy-boyan. Karena disini kita dituntut mempunyai fisik yang bagus karena harus berlari-lari. Selain itu, kita juga dituntut mempunyai kemampuan berstrategi yang baik dan kemampuan bekerjasama yang baik pula supaya bisa memenangkan permainan ini.
Sebelum bermain boy-boyan, selain harus menyiapkan dua alat tadi kita juga harus membagi peserta menjadi dua tim, misal tim A dan tim B. Setelah itu biasanya kedua tim akan melakukan hompimpa untuk menentukan tim mana yang berhak melempar terlebih dahulu. Tim yang menang akan melempar terlebih dahulu dan tim yang kalah kebagian menjaga.
Tim yang menang harus melemparkan bola ke arah tumpukan genting, jika tumpukan tersebut berhasil dihancurkan, maka semua anggota tim yang menang harus berlari untuk menghindari lemparan dari tim yang menjaga. Tim yang menang juga harus menyusun kembali menara genting yang hancur sambil menghindari lemparan bola dari tim yang menjaga.
Jika tim yang menang berhasil menyusun kembali menaranya sebelum semua tim yang menang terkena lemparan bola, maka mereka jadi pemenangya dan berhak menjadi tim pelempar lagi. Sedangkan tim yang menjaga harus berusaha menggagalkan tim yang menang untuk menyempurnakan tumpukan genting dengan melempar bola ke arah badan semua anggota tim yang menang. Apabila semua anggota tim yang menang terkena lemparan atau gagal menghancurkan tumpukan genting, maka tim yang jaga akan mendapat bagian melempar bola ke arah tumpukan genting.
Seperti permainan tradisional lainnya, permainan boy-boyan cenderung menggunakan alat-alat yang sederhana dan memanfaatkan fasilitas yang ada di sekitar rumah, jadi tidak perlu mengeluarkan biaya yang banyak. Tapi, disamping sederhananya alat-alat yang digunakan, permainan tradisonal sendiri mampu mengasah konsentrasi, kecepatan dan ketepatan dari setiap pemainnya. Selain itu itu juga para pemain dituntut untuk saling kerjasama, karena hampir semua permainan tradisional selalu mengutamakan kerjasama tim. Jadi, anak-anak secara tidak langsung belajar bersosialisasi, tidak seperti bermain tablet yang biasa dilakukan di kamar sendirian.
Permainan tradisional juga meniliki nilai-nilai luhur dan pesan-pesan moral tertentu. Jadi, sangat baik jika Sobat Djadoel semua mulai memperkenalkan permainan tradisional kepada masyarakat Indonesia, khususnya kepada anak-anak. Jangan sampai permainan tradisonal ini punah dan anak-anak generasi mendatang menjadi pribadi yang tidak memiliki identitas kebudayaan.